Setelah eksekusi dan mayat korban dikuburkan di musala seadanya, sepekan kemudian tanah di atasnya retak. Bahar akhirnya mengecor setinggi 25 sentimeter (cm) hingga bangunan di belakang rumah dekat dapur itu menjadi permanen mirip musala. Lantai ditutup dengan keramik.
“Untuk menghilangkan jejak, kuburan itu dibuat menyerupai musala. Bangunan itu juga jadi dapur, kamar mandi dan ada tempat parkir sepeda motor dan sepeda,” katanya.
Setelah pembunuhan dan penguburan mayat Surono, Busani menikah siri dengan Jumarin, warga desa setempat, pada Mei 2019 lalu. Kepada pria itu, Busani mengaku sudah janda karena suaminya telah meninggalkan dirinya dan menikah lagi dengan warga Lombok, NTB.
“Pernikahan ini juga disaksikan langsung oleh anak pelaku, BHR (Bahar),” ujarnya.
Sayangnya 10 hari sebelum peristiwa terbongkarnya kasus ini, Jumarin jarang bertandang ke rumah Busani lagi. Ini lantaran istrinya yang sedang bekerja di Malaysia pulang ke Ledokombo.