Kisah Kumpulan Komunitas di Tulungagung Gelar Razia Perut Lapar di Masa Pandemi
“Tidak ada lagi garapan. Sejak pandemi banyak seniman dan pekerja kreatif di Tulungagung yang terpaksa banting stir ke sektor ekonomi lain. Menjadi pengojek online, berdagang online, pulang ke desa untuk menjadi petani atau buruh tani,” katanya.
Tidak sedikit dari para pekerja seni, kata dia, yang akhirnya menganggur lantaran usaha mereka terkendala PPKM Level 4. "Kalau saya lebih menekuni kedai kopi atau kafe," kata Koko.
Di sektor warung kopi kondisinya juga tidak jauh beda. Usaha warung kopi, kedai atau kafe juga tidak bisa diandalkan.
Di malam hari, seluruh pedagang malam di Tulungagung maksimal hanya boleh buka hingga pukul 20.00 Wib. Bila kedapatan melanggar, akan ditutup paksa. Mulai pukul 20.00 Wib, lampu penerangan jalan umum, juga dimatikan. Sehari ada yang beli sepuluh cangkir kopi saja, kata Koko sudah untung.
Mereka merasa telah dimiskinkan secara sistematis. Kendati demikian, orang-orang yang tergabung dalam komunitas ini melihat, masih banyak kelompok sosial yang kondisinya lebih parah. Kelompok miskin kota yang harusnya menjadi tugas negara untuk membantu.