Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Jambret iPhone WNA Jerman di Kota Lama Surabaya, Kedua Kaki Pemuda Ini Ditembak
Advertisement . Scroll to see content

Ini yang Dilakukan Psikolog saat Dampingi Anak Korban Bom Teroris

Jumat, 18 Mei 2018 - 10:49:00 WIB
Ini yang Dilakukan Psikolog saat Dampingi Anak Korban Bom Teroris
Seorang anak mengikuti aksi solidaritas bagi korban bom teroris di Surabaya. (Foto: Antara)
Advertisement . Scroll to see content

SURABAYA, iNews.id - Sejumlah psikolog melakukan trauma healing atau proses pemulihan tekanan psikologis akibat syok terhadap anak korban ledakan bom bunuh diri di Surabaya, Jawa Timur (Jatim). Tahap awal yang dilakukan dalam proses ini adalah melakukan Psychological First Aid (PFA) atau pertolongan pertama pada gangguan psikologis.

Koordinator Ikatan Psikolog Klinis (IPK) Jatim, Naftalia Kusumawardhani mengatakan, pihaknya sudah mendampingi anak korban ledakan bom teroris sejak Minggu (13/5/2018) atau pascaledakan bom di tiga gereja di Surabaya.

Saat ini, setidaknya ada 12 anggota dari IPK Jatim yang sudah mendampingi anak korban ledakan bom. Pendampingan tersebut atas permintaan dari Rumah Sakit Bhayangkara Polda Jatim. "Tahap pertama yang kami lakukan ya PFA itu," katanya, Kamis (17/5/2018)

Dalam metode PFA ini, psikolog hanya mendampingi dan berperan sebagai pendengar yang baik. Psikolog tidak boleh mengarahkan atau menasihati. Tujuan dalam proses ini adalah agar korban melepaskan semua emosi dan kekesalan dalam jiwanya.

"Kalau teriak, silakan teriak. Kalau mau mukul, silakan mukul. Kalau mau mencaci maki teroris, silakan mencaci maki. Itu saja tugas psikolog dalam tahap PFA," ujarnya.

Tentang jangka waktu pemulihan, Naftalia tidak dapat memastikan. Sebab, kadar syok atau ketakutan yang dialami masing-masing korban berbeda-beda. Pendekatan atau metode yang diterapkan juga akan berbeda. Namun dalam tahap awal, metode PFA merupakan standar internasional dalam pemulihan syok.

"Untuk saat ini anak korban ledakan bom tidak mengalami trauma. Hanya syok saja. Disebut trauma ketika ketakutan itu berlangsung lebih dari dua bulan," ucapnya.

Editor: Himas Puspito Putra

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut