Balas Dendam Raja Airlangga ke Blora usai Serangan Mencekam Pasukan Wurawari
Enam tahun berselang, tepatnya pada 1025 M, Airlangga berupaya untuk melakukan ekspansi wilayah kekuasaannya. Hal ini didukung dengan ekspansi kekuasaan Rajendra Coladewaraja Colamandala dari India untuk menaklukkan Kerajaan Sriwijaya.
Alhasil secara kekuatan hal ini menguntungkan Airlangga yang kesulitan menghadapinya Sriwijaya. Usaha ekspansi wilayah pun membawa hasil yang gemilang.
Melalui usaha ekspansi ini, Airlangga ingin kembali menegakkan kekuasaan Wangsa Isana di Pulau Jawa. Tiga orang raja berhasil ditaklukkan Airlangga, yakni Wisnuprabhawa (Raja Wuratan), Raja Hasin dan Panuda (Raja Lewat) pada tahun 1030 M.
Sayang dua tahun berselang, Wawatan Mas mendapat serangan besar-besaran dari putri raja yang memerintah di Tulungagung pada tahun 1032 M. Putri Panuda membalas serangan balasan yang dilakukan Airlangga pada mendiang ayahnya. Serangan ini mengakibatkan Wawatan Mas ibukota Kerajaan Kahuripan hancur.
Airlangga bersama Mapanji Tumanggala meninggalkan Wawatan Mas dan melarikan diri ke Desa Patakan. Di Desa Patakan inilah Airlangga menggalang kekuatan pasukan yang lebih besar. Sesudah pasukanya yang digalang dirasa lebih kuat, Airlangga melakukan serangan balasan ke Putri Panuda.