Unik! Desa di Boyolali Ini Dijuluki Kampung Lele, Begini Sejarahnya
“Awalnya hanya mencoba, dibuat kolam untuk pagar agar padi tidak dimakan ayam, tapi ketika dilihat hasilnya lebih banyak dan terjamin dari budi daya ikan lele, terus akhirnya ada lagi yang mengembangkan. Dan kini sudah hampir tak ada petani padi karena semua telah beralih menjadi petani lele," tutur Sriyono.
Pada 1993, kemudian banyak masyarakat yang memutuskan untuk mengikuti jejak ketiga petani di atas. Karena semakin berkembangnya usaha ini maka terbentuklah kelompok yang dinamakan Bangkit Bangung Kelompok Ikan Tegalrejo. Kemudian, pada 1998 usaha pembesaran lele semakin berkembang.
Pada tahun ini ikan-ikan untuk budidaya dan pembesaran lele ini semakin luas dan jumlah anggota kelompok bertambah banyak. Pada saat itu terdapat 70 orang.
Seiring berjalannya waktu, usaha ini benar-benar membawa manfaat serta keuntungan bagi masyarakat desa Kampung Lele dengan menghasilkan Lele dalam jumlah ton per hari, yaitu sekitar 5 hingga 10 ton per hari dalam satu kali panen.
Tak hanya budi daya atau pembesaran lele, tetapi dikelola juga menjadi produk olahan lainnya seperti abon lele, keripik ekor dan keripik sirip lele.
"Kini kalau ada yang mau pengembangan kolam lele lagi tidak bisa di desa ini. Harus di luar desa. Karena semua lahan sudah dipenuhi dengan kolam lele," kata Sriyono.
Itulah kisah kampung lele di Boyolali yang bisa menjadi inspirasi bagi desa lainnya untuk lebih mandiri dalam perekonomian.
Editor: Kastolani Marzuki