Sejarawan Anggap Cerita Raja Keraton Agung Sejagat Mengada-ada
PURWOREJO, iNews.id - Pernyataan Raja Keraton Agung Sejagat (SAD) Totok Santosa Hadiningrat yang dipanggil Sinuhun dipertanyakan Sejarawan Purworejo Soekoso DM. Sejarah "staatsblad" Atlantik versi Keraton Agung Sejagat dianggap hal yang mengada-ada.
"Ngoyoworo (mengada-ada) sejarahnya, referensinya dari Raja Firaun hingga ada perjanjian antara Ranawijaya yang mewakili Majapahit, Syailendra, Sanjaya, Mataram Hindu dan Sriwijaya dan Majapahit untuk menandatangani staatsblad Atlantiķ," kata Soekoso di Purworejo, Rabu (15/1/2020).
Berdasarkan cerita Totok, perjanjian 500 tahun setelah berakhirnya Majapahit 1518 akan dikembalikan ke nusantara atau tanah Jawa.
BACA JUGA: Raja dan Permaisuri Keraton Agung Sejagat Resmi Jadi Tersangka
"Menurut dia 500 tahun itu hitungannya pada 2018. Staatsblad itu tidak ada, dilihat dari bahasanya saja katanya perjanjiannya ditandatangani di Malaka dengan Portugis, istilah staatsblad itu Belanda, kalau Portugis tidak ada. Kalau memang hal itu betul di sejarah nasional kita pasti ada. Oleh karena itu Sang Raja itu mengada-ada," ujarnya.
Dia menuturkan dalam sejarah memang Mataram Hindu abad 7-9, awalnya dinasti Sanjaya. Kemudian didatangi dari Syailendra, Balaputadewa. Akhirnya ada perang kecil kemudian ada perkawinan antara Balaputradewa dengan Pramudawardani yang kemudian membuat Borobudur, Prambanan dan seterusnya itu Mataram Hindu.