Sejarah Puasa Asyura dalam Islam, Ini yang Jadi Pembeda dari Puasa Umat Lain
Umat Yahudi berpuasa di hari kesepuluh Muharram dalam rangka memberingati hari di mana Allah SWT menyelamat Nabi Musa dari kejaran Firaun.
Oleh karena itu, Nabi Muhammad SAW mengatakan bahwa umat Muslim juga berhak untuk melestarikan dan menyempurnakan syariat Nabi Musa tersebut.
Dalam Shahîh Muslim, setidaknya terhimpun 30 hadits yang terkait dengan puasa ‘Asyura. Salah satunya adalah hadits berikut:
“Dari Ibnu Abbas ra, beliau berkata: ‘Rasulullah saw hadir di kota Madinah, kemudian beliau menjumpai orang Yahudi berpuasa Asyura. Mereka ditanya tentang puasanya tersebut, lalu menjawab: ‘Hari ini adalah hari dimana Allah swt memberikan kemenangan kepada Nabi Musa as dan Bani Israil atas Fir’aun. Maka kami berpuasa untuk menghormati Nabi Musa’. Kemudian Nabi saw bersabda: ‘Kami (umat Islam) lebih utama memuasai Nabi Musa dibanding dengan kalian’. Lalu Nabi saw memerintahkan umat Islam untuk berpuasa di hari Asyura." (HR Muslim)
Dilansir dari laman Muhammadiyah, hadits Aisyah RA yang terdapat di Shahih Bukhari dan Muslim menunjukan bahwa puasa Asyura telah dilaksanakan Rasulullah sebelum hijrah ke Madinah. Hadits tersebut berbunyi: