Sejarah Kesultanan Surakarta, Jejak Perjalanan Dinasti Mataram
Kesultanan Mataram yang berpusat di Kartasura akhirnya mengalami keruntuhan. Kartasura berhasil direbut kembali melalui bantuan Adipati Cakraningrat IV, seorang penguasa Bangkalan, namun keadaannya sudah rusak parah. Pakubuwana II yang menyingkir ke Ponorogo, akhirnya memutuskan untuk membangun istana baru.
Susuhunan Pakubuwana II memerintahkan Tumenggung Hanggawangsa bersama Tumenggung Mangkuyudha, mencari lokasi ibu kota dan keraton yang baru. Untuk itu, dibangun keraton baru di lokasi yang berjarak sekitar 20 kilometer ke arah tenggara dari Kartasura, tepatnya di Desa Sala, sebuah desa di tepi Sungai Bengawan Solo.
Untuk pembangunan keraton ini, Pakubuwana II membeli tanah seharga selaksa keping emas yang diberikan kepada akuwu (lurah) Desa Sala yang dikenal sebagai Ki Gedhe Sala. Di tengah pembangunan keraton, Ki Gedhe Sala meninggal dan dimakamkan di area keraton.
Pemindahan keraton dari Kartasura ke Desa Sala dengan berbagai pertimbangan. Pertama, menurut ahli nujum Raden Tumenggung Hanggawangsa, kerajaan itu menjadi baik, ramai, makmur. Meskipun kekuasaan raja tidak seberapa luas, namun dapat berlangsung lama. Kedua, Desa Sala terletak di dekat tempuran, tempat bertemunya dua Sungai Pepe dan Sungai Bengawan Solo.
Menurut mistik Jawa, tempuran mempunyai arti magis dan tempat-tempat di dekatnya dianggap keramat. Ketiga, letak Desa Sala dekat dengan Bengawan Solo, sebuah sungai terpanjang di Jawa yang sejak zaman dahulu mempunyai arti penting sebagai penghubung antara Jawa Tengah dengan Jawa Timur. Fungsi sebagai penghubung dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan, antara lain ekonomi, sosial, politik, dan militer. Sampai abad ke-19, bepergian lewat sungai lebih aman daripada melewati jalur darat.