Ponpes Jadi Klaster Covid-19, Gus Yasin: Kegiatan Belajar Jangan Berhenti
Untuk kegiatan mengaji secara tatap muka, lanjut dia, ponpes di Kudus bisa menjadi contoh bagi ponpes-ponpes model Tahfidz Quran lainnya. Kegiatan belajar langsung atau tatap muka tetap dilaksanakan di ponpes dengan mengenakan face shield dan menjaga jarak. Sehingga protokol kesehatan diterapkan dan pengajar tetap bisa mengamati gerak bibir santri saat melantunkan ayat-ayat.
"Ngaji tetep nanging ditata (ngaji tetap berjalan tetapi ditata), pakai masker, jaga jarak, hindari kerumunan, dan jaga kebersihan. Siapapun dapat terpapar virus Corona, tentu kita tidak mau kehilangan kiai karena tertular Covid-19," katanya.
Putra ulama kharismatik almarhum KH Maimoen Zubair itu mengatakan, semua penghuni ponpes, masyarakat dan pemerintah berkewajiban menjaga dan melindungi kiai supaya tidak tertular Covid-19 dengan mematuhi protokol kesehatan. Penyebaran Covid-19 di lingkungan pondok pesantren dapat berkurang atau dicegah dengan memperketat penerapan protokol kesehatan, membentuk Jogo Santri, dan mengajak masyarakat sekitar untuk taat pada anjuran pemerintah.
"Santri yang baru datang dari luar daerah harus menjalani karantina selama 14 hari dan mengkonsumsi vitamin. Jika tidak ada gejala, maka bisa mengikuti kegiatan belajar, kalau mengalami langsung bawa ke rumah sakit," ucapnya.
Tidak kalah penting, adanya koordinasi dengan pemda setempat, terutama menyangkut penyediaan sarana karantina santri dan fasilitas kesehatan. Seperti kasus Covid-19 di Kebumen dan Banyumas, santri yang terpapar corona dikarantina di gedung sekolah, hotel, dan fasilitas umum milik pemda setempat. Sedangkan santri yang sakit atau ada keluhan gejala Covid-19 dirujuk ke rumah sakit untuk mendapat perawatan medis.
"Kalau tidak punya tempat isolasi, pemerintah daerah siap membantu menyiapkan tempat isolasi santri yang terpapar," kata Gus Yasin.
Editor: Nani Suherni