Kisah Tan Malaka dan Jenderal Soedirman Rapat di Purwokerto untuk Mendapatkan Kemerdekaan RI
Tan mengajukan tujuh pasal program minimum: berunding untuk mendapatkan pengakuan kemerdekaan 100 persen, membentuk pemerintah rakyat, membentuk tentara rakyat, melucuti tentara Jepang, mengurus tawanan bangsa Eropa, menyita perkebunan musuh, dan menyita pabrik musuh untuk dikelola sendiri.
Menurut Tan, kemerdekaan 100 persen merupakan tuntutan mutlak. Sesudah musuh meninggalkan Indonesia, barulah diplomasi dimungkinkan. Tan bertamsil: orang tak akan berunding dengan maling di rumahnya. ”Selama masih ada satu orang musuh di Tanah Air, satu kapal musuh di pantai, kita harus tetap lawan,” katanya, dikutip dari purwokerto.inews.id.
Jenderal Soedirman juga tidak kalah garang. dia berpidato di kongres: ”Lebih baik diatom (dibom atom) daripada merdeka kurang dari 100 persen.” Para peserta kongres akhirnya sepakat membentuk Persatuan Perjuangan.
Selama berada di Kota Purwokerto, Tan bersahabat dengan Slamet Gandawijaya. Tokoh Murba kelahiran Madiun, Jawa Timur, 1901 yang menjadi penyandang dana terbesar dalam kongres tersebut, Tan yang menumpang di rumah Slamet mendapatkan kamar khusus.
Di rumah Slamet Gandawijaya yang berada di Jalan Balai Desa Patikraja, Kecamatan Patikraja, Banyumas atau sekitar 30 meter dari jalan utama Patikraja-Purwokerto, Tan selalu menginap dan kerap bertemu dengan Soedirman sebelum kongres. Meja makan dan kursi yang digunakan Tan untuk berdiskusi dengan Soedirman hingga saat ini masih terawat.