Kisah Sugiarno Nyaris Ditembak dan Dipenggal Tentara Jepang saat Pertempuran 5 Hari Semarang
Sugiarno juga mengisahkan, banyak kampung yang jadi sasaran amuk Jepang. Hal ini disebabkan setiap ada Jepang lewat dan dihadang pemuda, langsung ditangkap dan dianiaya. Jika itu ternyata tentara atau polisi Jepang, langsung dibunuh dan ditusuki bambu runcing lalu mayatnya ditinggal begitu saja di pinggir kampung.
Mereka yang melakukan pencegatan umumnya pemuda dari berbagai penjuru kampung yang patroli keliling kota dengan menyusuri jalan-jalan kampung. Saat menemukan temannya mati di kampung, maka Jepang melampiaskan kemarahannya pada pemuda dan penduduk kampung setempat.
"Ini lah yang membuat banyak warga dan pemuda yang mati di tangan Jepang. Umumnya mereka adalah yang tidak tahu apa-apa jadi sasaran kemarahan Jepang. Yang benar-benar berjuang bergerilya dari kampung-ke kampung,” ungkap Sugiarno.
Kemarahan pemuda, kata dia, dipicu saat Mayor Kido pada Minggu (14/10/1045) berjanji memberikan sebagian senjata kepada pemuda sebagai bekal mempertahankan kemerdekaan dari kemungkinan penguasaan Belanda kembali. Mengingat pada 17 Agustus sudah diproklamirkan Kemerdekaan Indonesia oleh Soekarno-Hatta di Jakarta.
Tapi setelah diterima, senjata yang diberikan kepada pemuda ternyata dalam kondisi rusak dan tak bisa digunakan, termasuk amunisinya yang diberikan banyak yang sudah tidak bisa meletus.