Kisah Sugiarno Nyaris Ditembak dan Dipenggal Tentara Jepang saat Pertempuran 5 Hari Semarang
Sugiarno yang sembunyi di bawah kolong langsung diseret keluar. Melihat itu, ibunya meronta-ronta hingga melepaskan seluruh pakaiannya hanya untuk berbelas kasihan kepada Jepang agar anaknya dilepaskan.
"Saat itu sebilah samurai sudah menempel di leher saya, kemudian ibu saya berlari ke pekarangan rumah menemui salah satu tentara sambil menunjukkan sebuah foto adik perempuan saya yang sedang digendong seorang Mayor tentara Jepang di Surabaya,” kata Sugiarno.
“Ibu saya mengatakan bahwa saya adalah anak satu-satunya yang tertinggal, karena adik saya sudah diangkat menjadi anak angkat seorang Mayor tentara Jepang di Surabaya. Jepang tersebut kemudian membaca huruf kanji yang ditulis di belakang foto oleh mayor tersebut. Lalu dia melepaskan saya dan tidak jadi membunuh saya dengan samurainya,” cerita Sugiarno.
Sebab itu, saat mengenang awal Pertempuran 5 Hari Semarang yang terjadi pada 14 Oktober, Sugiarno yang akrab dipanggil eyang Giri ini selalu membuat bubur 2 warna, putih dan merah kecokelatan sebagai bentuk rasa bersyukur kepada Allah SWT atas keselamatan dari kejadian menggetirkan tersebut.
"Ya Jepang saat itu memang kejam, mereka membabi buta dengan melakukan pembunuhan terhadap setiap pemuda. Pemuda Semarang kala itu juga tidak kalah bengisnya dengan Jepang. Hal ini karena mereka tidak tahan dengan perlakuan Jepang, sehingga mereka membalasnya pula dengan sikap sama,” katanya.