Kisah Soeharto Berhaji sebagai Warga Biasa Bukan Presiden, Dikawal Wiranto dan Hendropriyono
Saat sarapan bersama, ia mengusulkan agar Presiden Soeharto tetap datang dalam rangka kunjungan kenegaraan. Artinya, datang dan pulang dengan penyambutan dan pelepasan resmi.
Beliau dan keluarga dapat melaksanakan haji bersama jemaah Indonesia lainnya pada jadwal free program yang biasanya untuk memberi kesempatan tamu melaksanakan acara-acara bersifat pribadi," kata diplomat karier lulusan Pondok Pesantren Modern Gontor, Jawa Timur ini. "Setuju! Tolong dikomunikasikan dengan pihak Saudi Arabia," kata Hendropriyono.
Setelah berkomunikasi, Kerajaan Arab Saudi tetap ingin Presiden Soeharto melaksanakan haji, utamanya saat wukuf di Arafah, di area khusus untuk tamu negara.
Namun Pak Harto juga keukeh ingin wukuf bersama jamaah haji Indonesia. Sebagai jalan tengah, akhirnya disepakati Presiden Soeharto wukuf bersama jemaah Indonesia dengan pengawasan penuh Pasukan Pengamanan Kerajaan. Presiden Soeharto bersama keluarga berangkat ke Tanah Suci pada 16 Juni 1991.
Sesampai di Jeddah, ternyata penerjemah yang telah disiapkan dari Jakarta terlambat tiba. Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) kemudian memerintahkan Maftuh Basuni menjadi penerjemah Pak Harto.