Kisah Sanjoto, Pengaman Rute Gerilya Jenderal Sudirman hingga Penguji SIM Militer Ahmad Yani
Bagi Sanjoto, pertemuan dengan Jenderal Ahmad Yani suatu anugerah. Karena saat itu dia belum lama naik pangkat dari Sersan Satu menjadi Sersan Kepala. Dan sesampai di Jawa Tengah bertugas di Pomdam VII (sekarang IV), Sanjoto bisa berangsur sekolah menuju karier prajurit sebagai Perwira Pertama dari Letnan Dua hingga pensiun Kapten di tahun 1983.
Dia menyimpulkan, menjadi prajurit TNI dirinya tak pernah neko-neko. Modalnya cuma semangat, berani, jujur dan setia. Bukti kesederhanaannya, hingga sekarang Sanjoto belum memiliki rumah sendiri. Rumah yang kini ditempati merupakan rumah yang dulu menjadi persembunyian DN Aidit saat lari dari Jakarta menuju Solo pasca G30S/PKI.
“Rumah ini dulu saya yang ngepung dan grebek saat mendengar kabar ada Aidit ngumpet di sini. Tapi keburu dia kabur ke Solo dan tertangkap di sana. Rumah ini ternyata tanahnya milik atau aset Pemkot Semarang, jadi saya disini sesuai perintah Danpomdam kala itu hanya menempati. Saat rusak parah juga banyak pihak yang memperbaiki, termasuk dari Kodam IV, Mabes TNI hingga par pengusaha melalui CSR, Bahkan ada rencana akan dihibahkan ke kami, namun sampai sekarang belum ada kabar realisasinya. Kami masih menunggu kepastiannya sejak era Walikota Pak Hendrar Prihadi,” ujarnya.
Menurut Sanjoto, menjadi tentara pada waktu itu berbeda dengan tentara sekarang, apalagi saat kondisi tempur atau perang. Dulu senjatanya tidak semodern sekarang. Misalnya banyak yang tidak menggunakan magazen, jadi peluru ditembakkan satu-satu. bahkan 1 senapan beratnya bisa mencapai 10 kilogram dan popornya dari kayu.
Sekarang senjatanya canggih bisa memuntahkan banyak peluru sekali tekan picu. Jadi tentara pada masa revolusi dulu harus punya rasa kesabaran ketika berhadapan dengan musuh. Bila mau berperang dan menembak musuh harus memastikan apakah senjatanya bisa menjangkau atau tidak, jadi tidak asal menembak karena pelurunya terbatas.
Editor: Ahmad Antoni