Dalil Keharaman Berpuasa di Hari Tasyrik Idul Adha
(2) الأثر عن ابن عمر وعائشة رضي الله عنهم أنهما قالا : " لم يرخص في أيام التشريق أن يصمن إلا لمن لم يجد الهدي " . أخرجه البخاري من حديث ابن عمر وعائشة رضي الله عنهم ( فتح الباري 4 / 242 ط السلفية ) .
“Tidak ada kemurahan di hari-hari taysriq untuk dipuasai kecuali bagi orang yang tidak menemukan hadiah” (Atsar Ibn Umar dan ‘Aisyah ra- Fath al-Baari II/242).
Sedang menurut Imam Ahmad, Kalangan Hanafiyyah dan Qaul Qadimnya Syafi’iyyah puasa dihari-hari tasyriq sebagai pengganti hadiah di atas tetap tidak diperbolehkan berdasarkan larangan hadits yang pertama.
Kalangan Hanabilah, Syafi’iyyah dan malikiyyah berpendapat “Barangsiapa bernadzar menjalani puasa dalam satu tahun, tidak masuk dalam nadzarnya hari-hari tasyriq, berbukalah dan tidak ada qadha baginya karena hari-hari tasyriq memang hari berbuka dan tidak dapat disentuh oleh nadzar sekalipun”.
Abi Yusuf, Ibn Mubaarak dan Muhammad meriwayatkan dari Imam Abu Hanifah “Nadzarnya sah hari-hari tasyriq tersebut hanya yang lebih baik ia berbuka dan berpuasa dihari-hari lainnya, bila ia berpuasa hari-hari tasyriq ini dirinya dianggap jelek tapi ia sudah keluar dari nadzarnya”.