Cerita Rakyat Jawa Tengah, Asal Usul Dusun Leboyo
Lelaki itu langsung memeriksa dahan pohon itu dan memikirkan cara untuk membantu sang buaya. Setelah selesai memeriksa seluruh bagian, lelaki itu berkata “Sepertinya sangat sulit melepaskanmu karena dahan pohon ini sangat berat tidak bisa diangkat”. Sang buaya pun bertanya cemas “Lalu apa solusinya?”.
“Cara yang bisa aku lakukan adalah dengan memotong salah satu kakimu” ujar seorang warga lelaki itu yang membuat sang buaya terkejut. “Apa tak ada cara lain?” tanya sang buaya. Lelaki itu menjawab dengan tegas “Tidak!”. Hal tersebut membuat sang buaya cemas apa kata teman-temannya jika kakinya hilang satu, ia akan merasa sangat malu. Lalu ia juga berpikir tidak ingin menjadi buronan warga sekitar.
Menuju akhir cerita rakyat Jawa Tengah asal usul Dusun Leboyo, sang buaya berpikir keras akan solusi dari seorang warga lalu ia pun menerimanya dengan berat “Baiklah akan ku serahkan semuanya padamu”. Seorang warga lelaki itu langsung mengamputasi salah satu kaki buaya untuk membebaskannya dari dahan pohon Loh “Sekarang kau bebas. Seperti yang sudah kau janjikan kau tak akan mencelakaiku kan?.
“Tentu saja. Saya akan menepati janji saya. Karena kau sudah berbaik hati menolongku sebagai rasa ucapan terima kasih, mulai saat ini saya dan kawanan buaya lainnya berjanji akan melindungi dan menjaga warga desa ini serta tidak akan memangsanya.
Terakhir, jika kami para buaya muncul ke permukaan sungai maka itu Anda dari kami bahwa akan terjadi bahaya. Beritahulah kepada semua warga untuk menyelamatkan diri sebelum bahaya itu datang” janji sang buaya kepada warga desa yang menolongnya.
Akibat peristiwa yang melibatkan buaya dengan seorang warga desa, kini daerah tersebut diberi nama Lohboyo. Berasal dari kata Loh yang berarti nama pohon yang menimpa buaya, sedangkan boyo dalam bahasa Jawa berarti buaya. Namun warga sekitar sering kali menyebutnya dengan Dusun Leboyo.
Dari keseluruhan cerita rakyat Jawa Tengah asal usul Dusun Leboyo dapat ditarik makna pesan yang sangat penting bagi kita semua yakni jangan membuat janji jika kita tidak bisa memenuhi janji itu. Dan jika kita sudah berjanji maka alangkah baiknya untuk ditepati.
Editor: Ahmad Antoni