Cerita Eks Napi Terorisme, 20 Tahun Aktif di Kelompok JI Kini Sadar berkat Pesan Sang Ibu
“Ada konsep dan cara berpikir yang salah dalam kepalanya,” ungkap Munir yang ketika acara juga didukung pemutaran film dokumenter kisahnya berjudul “Dari Kecewa pada Bapak jadi Pendana ISIS” karya Kreasi Prasasti Perdamaian itu.
Munir terlibat pendanaan ISIS, orang dekat dengan pentolan ISIS Bahrunnaim hingga memanfaatkan internet dan media sosial untuk menggalang pendanaan. Salah satu keterlibatannya, menyiapkan pendanaan bagi pengeboman di Mapolresta Solo Juli 2016.
Sementara, Kepala Detasemen Khusus 88/Antiteror Polri Irjen Pol Marthinus Hukom mengatakan, kelompok teror memanfaatkan sistem algoritma yang ada di media sosial (medsos) untuk menyebarkan propagandanya sekaligus menentukan sasaran empuk merekrut anggota.
Untuk menangkalnya, perlu menciptakan eco chamber alias ruang gema untuk menetralisir propaganda radikal teror di medsos. Pada konteks ini, mahasiswa dianggap sebagai agen yang pas untuk membanjiri media sosial dengan konten-konten positif sebagai kontra narasi radikalisme terorisme.
“Ini adalah cerdasnya ISIS memanfaatkan medsos, terutama Facebook dan Twitter dipakai untuk merekrut target-target yang rentan. Medsos adalah ‘alat perang’ di era kemajuan informasi teknologi, jangan sampai kita bisa hindari perang tradisional, tetapi perang medsos tidak bisa kita hindari,” ungkap Kadensus.