BNNP Temukan Sejumlah Remaja di Jateng Kecanduan Air Rebusan Pembalut
“Dulu mereka kerap mengorek-orek tempat sampah untuk mencari pembalut bekas di tempat-tempat sampah lalu direbus. Tapi kini sudah menggunakan pembalut baru. Pembalut itu kan ada gelnya yang berfungsi menyerap air (darah haid), itu yang bikin fly. Tapi untuk kandungannya apa di dalam gel itu, saya kurang tahu pasti,” paparnya.
Sementara psikolog, Indra Dwi Purnomo, menyampaikan, fenomena merebus pembalut ini sudah cukup lama ditemukan di daerah Karawang dan Yogyakarta. Rata-rata pelakunya ingin mengejar kesenangan namun tak memiliki materi berlebih.
“Mereka ini mayoritas anak jalanan atau dari keluarga kurang mampu. Karena keterbatasan modal inilah anak-anak muda ini suka bereksperimen. Mulai dari yang legal-legal dulu dari Komix, akhirnya bahkan minum rebusan softex (pembalut)," terangnya.
Dosen Fakultas Psikologi Universtias Katholik (Unika) Soegijapranata Semarang itu mengatakan, sering bekerja sama dengan BNNP Jateng untuk menindaklanjuti laporan masyarakat untuk menangani anak-anak yang kecanduan pembalut rebus. Efek yang ditimbulkan, pelaku akan kehilangan konsentrasi hingga kesadaran.
“Kami menemukan, anak-anak ini mengonsumsi secara berkelompok, tidak sendiri, seperti dibilang asyiknya ramai-ramai. Makanya kalau kami periksa satu anak, maka dalam satu kelompok itu hasilnya juga sama (kecanduan pembalut rebus),” katanya.
Editor: Maria Christina