Anggota Dewan di Sragen Usul Pengadaan Burung Hantu untuk Basmi Tikus
Jika dihitung secara matematis, satu ekor burung hantu bisa membunuh 90 hingga 150 ekor tikus tiap bulannya. Apabila dalam satu area persawahan terdapat 10 ekor burung hantu, maka tikus yang terbunuh bisa mencapai 900-1.500 ekor tiap bulannya.
Sumadi mengakui hama tikus telah membuat kalangan petani pusing. Bahkan, ada petani yang terpaksa menanam padi hingga dua kali di lahan yang sama akibat serangan hama tikus. Tidak hanya menyerang tanaman padi, tikus juga menyerang tanaman bawang merah, tomat hingga cabai.
"Di Celep tidak ada petani yang memasang jebakan tikus (teraliri listrik). Kalau menembak tikus ada, salah satunya saya sendiri. Dalam dua jam, saya bisa menembak 10-15 ekor tikus yang menyerang tanaman tomat saya. Kalau di area persawahan, mungkin jumlahnya lebih dari itu,” ujar Sumadi.
Sementara itu, Ketua Komisi IV DPRD Sragen, Sugiyamto, mengakui budi daya burung hantu bisa menjadi solusi atas maraknya hama tikus yang menjadi musuh petani. Dia berharap Pemkab Sragen bisa mengkaji perlunya pengadaan burung hantu supaya bisa dibudidayakan kalangan kelompok tani.
"Area pertanian di Sragen itu sangat luas sehingga dibutuhkan banyak sekali burung hantu itu. Apalagi, jumlah tikus dalam satu kawasan itu ribuan. Itu perlu dikaji dulu oleh Dinas Pertanian terkait perlunya pengadaan burung hantu sebagai predator tikus sawah," ucap Sugiyamto.
Artikel ini telah tayang di Solopos.com dengan judul "Legislator Sragen Dorong Pengadaan Burung Hantu Untuk Basmi Tikus"
Editor: Nani Suherni