Wakil Ketua Komisi VIII DPR: Fanatisme Berlebihan Timbulkan Konflik
Kang Ace menyontohkan, dulu belajar agama itu dengan kiai langsung. Sekarang, ke “kiai google”. Terkadang, ustaz-ustaz di media sosial (medsos) dianggap lebih memiliki otoritas keagamaan kuat dibanding kiai.
"Konten-konten keagamaan radikal dan ekstrem menjadi mudah dikonsumsi tanpa konsultasi dengan otoritas keagamaan tradisional. Populisme agama kemudian menjalar pada aspek politik. Bahkan sebagian anak-anak kita terpapar radikalisme,” ucapnya.
Sementara itu, Kepala Kanwil Kemenag Jabar Ajam Mustajam mengatakan, saat Kanwil Kemenag Jabar tengah mempersiapkan pembentukan Kader Moderasi Milennial di lingkungan masing-masing. Hal ini dilakukan untuk menjawab tantangan generasi kedepan supaya lebih toleran dan lurus dalam membangun bangsa.
“Sekarang ini zaman digital, zaman internet yang segala sesuatu bisa didapat dari handphone. Kadang belajar agama juga dari konten YouTube dan media sosial, sehingga banyak tokoh yang tiba-tiba menjadi panutan. Sementara kiai yang mesantren puluhan tahun disalah-salahkan,” kata Kepala Kanwil Kemenag Jabar.
Ajam Mustajam menyatakan, melalui penguatan moderasi beragama diharapkan kualitas dan penahaman nilai-nilai keagamaan di masyarakat akan semakin baik.
"Sehinga Indonesia semakin damai dan saling menghargai antar sesama anak bangsa yang sangat majemuk dan beragam latar belakang budayanya itu," ujar Ajam Mustajam.
Editor: Agus Warsudi