Terowongan Tertua di Jawa Barat, Lampegan di Cianjur dan Kisah Nyi Sadea
Setelah 1945, tentara Jepang pergi. Stasiun dan pos penjagaan di Terowongan Lampegan dikuasai serdadu Belanda. Kawasan Lampegan pun kerap menjadi ajang duel mortir antara TNI dengan KNIL.
Para pejuang bergerilya di wilayah sekitar Lampegan. Mereka bergerilya di hutan-hutan dekat Stasiun Lampegan untuk mengganggu para serdadu Belanda yang berpos di Lampegan.
Lokasi yang berbukit dan berada di tengah hutan, membuat terowongan Lampegan strategis untuk melawan dan bersembunyi dari penjajah. Lampegan merupakan lokasi ideal untuk ajang duel mortir guna menakut-nakuti serdadu Belanda.
Terkait asal mula nama Lampegan disematkan untuk terowongan kereta api tersebut, ada yang menyebutkan, Lampegan berasal dari ucapan seorang mandor Belanda, Van Beckham yang berteriak "Lamp pegang (pegang lampunya) kepada para pekerja pribumi.
Ada juga cerita yang menyebutkan nama Lampegan berasal dari seruan masini kepada anak buahnya saat hendak melalui terowongan tersebut. Sang manisni berteriak, "Lampen aan! Lampen aan! (Nyalakan lampu, nyalakan lampu!).”