Sejarah Jembatan Cirahong Tasikmalaya, Miliki Fungsi Ganda Satu-Satunya di Indonesia
Kanjeng Prabu yang memiliki pengaruh ke pemerintah kolonial, membujuk Belanda agar jalur rel kereta yang dibangun tersebut melintasi Kota Ciamis. Pertimbangan Kanjeng Prabu dalam bujukannya ke Belanda karena jumlah penduduk Kota Ciamis lebih banyak daripada Cimaragas, sehingga kereta api akan lebih bermanfaat untuk masyarakat.
Setelah banyak perdebatan, akhirnya kolonial menyetujui usulan Kanjeng Prabu. Belanda akhirnya membangun dua jembatan di atas Sungai Citanduy. Jembatan tersebut merupakan Jembatan Cirahong di Manonjaya dan Jembatan Karangpucung di dekat Kota Banjar.
Belanda menemukan cara yang efektif dan efisien dalam membangun Jembatan Cirahong. Jembatan ini dibangun oleh Belanda berdasarkan data dasar topografi dan geologi yang dipadukan dengan perencanaan matang.
Dilansir dari dbmtr.jabarprov.go.id, Jembatan Cirahong secara geologis terkait dengan fenomena meletusnya Gunung Galunggung. Saat Galunggung meletus dahsyat dan melontarkan dinding timur tenggaranya menjadi berkeping-keping batu, bahan ledakannya membendung Sungai Citanduy di Kota Tasikmalaya, sehingga saat ini terbentuk danau.
Letusan hebat Gunung Galunggung menghasilkan ribuan bukit. Dengan memanfaatkan celah sempit di atas Sungai Citanduy daerah Cirahong, Belanda menjadikannya sebagai tempat untuk membentangkan jembatan kereta api menuju Kota Ciamis.
Batu di daerah sana juga merupakan batu yang keras, sehingga cocok untuk pondasi jembatan.
Editor: Kurnia Illahi