Rumah Adat Cikondang di Pangalengan Bandung Diperkirakan Tahan Gempa Magnitudo 7
Rumah adat itu terdiri atas dua bangunan berukuran besar dan kecil. Namun secara umum, rumah adat Cikondang memiliki bentuk atap julang ngapak. Di mana konstruksi atap disusun berdasarkan kuda-kuda dengan bahan kayu dan gording bambu. Kemudian pada atap ditutup dengan bambu dilapisi ijuk.
Beberapa ahli arsitektur menyebutkan, bangunan rumah adat Cikondang memiliki konstruksi yang cukup kuat jika terjadi gempa bumi. Bahkan, gempa bumi dengan magnitudo 7 diperkirakan tidak akan memberi efek kerusakan berarti terhadap bangunan rumah adat Cikondang.
Juru Kunci Kampung Adat Cikondang Anom Juhana mengatakan, rumah adat di kampung ini adalah karya tertinggi masyarakat Cikondang. Konsep panggung juga sebagai bentuk komitmen manusia menjaga alam.
Di mana panggung diharapkan tidak mengganggu proses resapan air di kaki gunung tersebut. "Di sini kawasan aliran air tinggi yang bermuara di Sungai Citarum. Jadi konsep panggung agar tidak mengganggu proses resapan air," kata Anom Juhana dikutip dari berbagai sumber.
Konsep rumah yang ramah terhadap alam cukup tepat diterapkan di Kabupaten Bandung. Sebagaimana diketahui, Bandung disusun atas gugusan pegunungan dan berada di area sesar yang rawan gempa bumi.
Di Kabupaten Bandung setidaknya berdekatan dengan sesar Garut Selatan (Garsela) dan Sesar Lembang. Sesar Lembang diperkirakan berpotensi menimbulkan gempa bumi hingga berkekuatan di atas magnitudo 6 hingga 8. Diperlukan kesadaran masyarakat membuat mitigasi bencana sejak dini, menghindari kerugian lebih besar lagi.
Editor: Agus Warsudi