Kecewa dengan Majalengka, Hary Susanto Hengkang ke Tasikmalaya sejak 2010
Perjalanan Hary sebagai atlet di Tasikmalaya dimulai pada 2014 lalu, saat berlaga di Peparda Bekasi 2014. Empat tahun kemudian atau 2018, Hary menjadi orang nomor satu di jajaran NPCI Kabupaten Tasikmalaya.
“Sejak Peparda 2014 di Bekasi, sudah jadi atlet Kabupaten Tasik. Di Peparda Kabupaten Bogor, 2018 jadi ketua NPCI Kabupaten Tasik. Pernah mau ribut sama Jabar, karena Hary bela (Kabupaten) Tasik,” tutur Hendri.
Hendri berharap, ke depan, pemerintah bisa memberi kesempatan kepada para atlet dari kalangan disabiltas. Namun, kesempatan itu tidak hanya berhenti pada wacana yang tanpa realisasi, seperti yang pernah terjadi.
“Bupati pernah janji kasih sekretariat, tapi sampe sekarang nggak ada. KONI dapet anggaran, tapi sampe 2021, NPCI belum jelas dapet anggaran apa nggak. Mohon jangan beri janji palsu ke temen-temen disabilitas,” ucapnya.
Sementara itu, istri Hary, Dewi Yuliana mengatakan, sampai saat ini, belum dihubungi Pemerintah Daerah (Pemda) Majalengka, setelah suaminya sukses menyumbang emas untuk kontingen Indonesia. Dewi mengaku sudah mengetahui rencana Pemprov Jabar yang akan menyambut kedatangan suaminya nanti.
“Infonya, nanti dari Jakarta akan disambut Pak Gubernur dulu. Terus nanti mungkin pulang lah ke sini (Majalengka). Karena, sekarang kan kami sudah ada rumah juga di Bandung dan Bapak kan PNS di pemprov. Tapi kami mungkin pulang dulu ke sini,” kata Dewi Yuliana, Senin (6/9/2021).
Di Kabupaten Majalengka, Hary bersama istrinya tinggal di Blok Sabtu, Desa Maja Utara, Kecamatan Utara. Namun, berdasar pengakuan istrinya, rumah tersebut hanya digunakan sesekali, ketika mereka berlibur. Sedangkan keseharian mereka tinggal di Antapani, Kota Bandung. “Kalau KTP mah, masih KTP sini,” ujar Dewi.
Editor: Agus Warsudi