Cerita Kades yang 3 Warganya Jadi Korban Pemerkosaan Guru Pesantren di Bandung
"Ini santri dan santriwati kan pulang setahun sekali hanya Lebaran. Nah yang sebelumnya itu melahirkan sebelum Lebaran jadi enggak ketahuan. Belum lagi baru enam hari di sini sudah dijemput langsung. Anak juga enggak bisa komunikasi langsung dengan orang tua karena alasan ketat pesantrennya," kata Hikmat.
Saat ini, kata Hikmat, seluruh anak yang dilahirkan di pesantren sudah dibawa ke rumah. Sebelumnya anak-anak tersebut disimpan di mess yang diduga akan dibuat menjadi panti asuhan.
"Itu saking bejadnya (pelaku) mau bikin panti asuhan anak mungkin untuk menarik simpati pemerintah, padahal yang disimpan adalah anaknya sendiri," ucap Hikmat.
Dia pun berharap kepada Dedi Mulyadi sebagai wakil rakyat asal Jawa Barat bisa menyampaikan aspirasi terkait izin pendirian pesantren. Sebab yang dia rasakan bukan hanya dari sisi moralitas tetapi ideologi pun harus menjadi perhatian khusus.
"Saya mohon ke Kang Dedi sebagai wakil rakyat sampaikan juga ke Pak Jokowi harus ada perhatian khusus untuk mengawal pesantren jangan sampai asal memberikan izin. Dan saya mohon pemerintah membuat sekolah yang mumpuni di daerah pesisian seperti di sini ini," ujarnya.
Sementara itu Kang Dedi Mulyadi berharap kejadian ini bisa menjadi pelajaran bagi semua pihak dalam memilih lembaga pendidikan. Dia pun akan menyampaikan aspirasi Hikmat.
"Mudah-mudahan peristiwa ini bisa menjadi pelajaran kita semua untuk berhati-hati dalam memilih lembaga pendidikan. Izin perizinan pesantren yang ideologinya bertentangan dengan kehidupan kebangsaan dan moralitas juga harus diperhatikan. semoga ini kasus terakhir, tidak boleh terjadi lagi," ucap Kang Dedi Mulyadi.
Editor: Asep Supiandi