Bisnis Baju Bekas Impor di Garut Sulit Terdeteksi, Produk Lokal Terancam
Maraknya bisnis thrifting khususnya di kalangan anak muda itu setidaknya telah mengganggu produk fashion yang diproduksi dalam negeri secara lokal.
Manager Marketing Communication 3Second Hendri Sase mengatakan, melonjaknya aktivitas thirfting telah mengancam eksistensi produk lokal meski dengan persentase yang belum dominan. Hendri Sase pun mendukung kebijakan pemerintah untuk melarang penjualan produk-prodik thrifting.
"Menjamurnya budaya thirfting sangat mengganggu eksistensi brand lokal. Ketika pemerintah melarang produk thrifting masuk sangat membantu brand lokal untuk tetap eksis, tentu kami sangat mendukung kebijakan pemerintah agar produk-produk thrifting ini ditutup," ucap Hendri Sase.
Menurutnya, bisnis thrifting dapat dengan cepat membanjiri pasar karena menawarkan harga murah untuk setiap produk brand luar negeri ternama. Dia mengakui dampak dari kehadiran thirfting telah menimbulkan dampak bagi penjualan, yakni sekitar 20 persen.
"Produk thrifting adalah brand-brand asing yang diperjualbelikan dengan harga murah. Padahal produk ini barang bekas, namun karena brand luar akhirnya menjadi nilai lebih bagi pemakainya sehingga produk thrifting digemari di Indonesia," katanya.
Kendati demikian, kondisi tersebut tak lantas dianggap sebagai rintangan namun tantangan bagi produsen dan penjual produk fashion dalam negeri. Menurutnya kualitas brand lokal tak kalah saing dengan brand asing, tak hanya dari bahan, namun juga desain yang terus mengikuti tren.
Adaptasi dan inovasi, kata Hendri Sase, telah membuat produknya dapat bertahan dan berkembang sejak brand fashion ini didirikan pada 1997 lalu. Hingga saat ini, usahanya telah memiliki 110 cabang yang beroperasional dalam melakukan penjualan produk di seluruh Indonesia.
Editor: Asep Supiandi