Putri Koster Gandeng Unud Olah Bunga Edelweis Jadi Dupa dan Parfum
"Tentunya sudah dalam bentuk rangkaian bunga yang dihias dan dipadupadankan dengan bunga lokal dan melibatkan instansi terkait yang akan mendampingi petani dan pengelola Taman Edelweis," ucapnya.
Menurut dia, hal ini sekaligus menjadi kawasan wisata bagi wisatawan yang ingin menikmati indahnya warna edelweis (bunga kasna) yang terdiri atas tiga jenis, yakni tanaman yang dapat berbunga, tanaman kasna yang tidak dapat berbunga dan tanaman kasna memiliki aroma yang sangat harum.
"Jika dikaitkan dengan fungsinya, bunga kasna sangat diperlukan sebagai salah satu sarana ritual banten (sesajen) yang digunakan saat Hari Raya Galungan saja setiap enam bulan, sehingga setelah itu pemanfaatan bunga ini akan berhenti sejenak. Secara tidak langsung ini memberikan efek kurang baik bagi perekonomian dan semangat para petani," katanya.
Pada kesempatan itu, Putri Koster juga memberi edukasi kepada sejumlah mahasiswa yang sedang melaksanakan kuliah kerja nyata dari salah satu perguruan tinggi di Bali, agar mereka sebagai generasi penerus bangsa turut serta dalam membangun Bali. Selain itu, dia juga menyampaikan Taman Edelweis Karangasem ini sudah kembali dibuka untuk dikunjungi wisatawan, terutama domestik yang saat ini sudah mulai berdatangan ke Bali, namun dengan tetap menerapkan protokol kesehatan.
Ketua Pengelolaan Taman Edelweis Bali I Wayan Sudiana mengatakan pertama kali taman ini dibuat lantaran sebelumnya terjadi erupsi Gunung Agung pada 2018. Objek wisata dan spot baru bagi wisatawan yang didirikan bersama kelompok masyarakat ini memang memiliki taksu tersendiri untuk mendatangkan pengunjung.
"Nama Edelweis menjadi magnet untuk mengabadikan momen di taman keabadian lembah putih ini," ujarnya.
Editor: Nani Suherni