Puncak Karya Baligia, Perindo Bali Apresiasi Generasi Muda Turut Jaga Warisan Adat
Dalam puncak upacara Karya Baligia Utama, setelah melewati rangkaian panjang upacara, momen ini menjadi bagian penting dalam menyucikan roh leluhur (atma) agar mencapai alam Siwa Loka dan bersatu dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa sebagai Dewa Pitara.
Sebanyak 104 puspa atau simbol roh leluhur yang telah melalui prosesi ngaben disucikan kembali. Dari jumlah tersebut, 17 di antaranya merupakan puspa dari keluarga inti Puri, termasuk Pengelingsir Prof. A.A. Agung Gede Putra Agung dan Anak Agung Istri Agung Raka Padmi. Sisanya berasal dari berbagai wilayah di Karangasem hingga Lombok.
Prosesi dimulai dengan upacara melaspas padma dan bukur, lalu dilanjutkan Mapurwa Daksina yakni ritual mengitari bale piyadnyan sebanyak tiga kali bersama berbagai sarana upakara. Salah satu elemen penting dalam prosesi ini adalah lembu putih, binatang suci dalam kepercayaan Hindu yang menjadi media penyucian atma.
“Ini untuk mewarisi adat istiadat dan budaya leluhur kami untuk anak cucu kami di masa datang. Sebab, warisan terbesar yang dapat diwariskan kepada anak dan cucu bukanlah uang atau hal-hal materi lainnya, melainkan warisan adat istiadat dari para leluhur kami,” kata Pengelingsir dan Manggala Puri, Anak Agung Bagus Parta Wijaya yang menjadi penanggung jawab upacara tersebut.
Menyoroti upacara di Karangasem ini dan acara adat lain di Bali pada umumnya, Jro Bima juga menekankan pentingnya keterlibatan generasi muda dalam pelaksanaan upacara sebagai upaya pelestarian budaya.