Telat Adopsi Kendaraan Listrik, Indonesia Bisa Tergilas Negara Lain
"Kalau kita tidak pandai melihat potensi ini, maka akan tertinggal dalam industri otomotif terkhusus untuk isu elektrifikasi. Namun, ini juga sekaligus menjadi potensi besar bagi produsen komponen, agar mulai fokus menjari apa yang mereka bisa produksi untuk kendaraan listrik," ujar Taufiek.
Dia menuturkan jika produsen komponen dan otomotif tidak mulai melakukan perpindahan dan beradaptasi dengan teknologi terbaru di industri otomotif global, ini akan jadi ancaman besar. Terutama untuk pasar ekspor Indonesia yang berjumlah 80 negara. Namun, jika semua siap termasuk produsen komponen, maka ekspor ke 80 negara itu bisa tetap terjaga dan ditingkatkan.
“Berdasarkan proyeksi internal Kemenperin, jumlah kendaraan ICE yang beredar pada 2030 sebanyak 25,8 juta unit dan menghasilkan emisi 92,2 juta ton CO2. Dalam rangka dukungan pengurangan Emisi CO2, Kementerian Perindustrian mengeluarkan kebijakan pengembangan industri kendaraan bermotor emisi karbon rendah yang diatur dalam Permenperin No 36 Tahun 2021,” katanya.
Pengamat dari institusi dan pendidikan Dr Agus Purwadi menyoroti kesiapan ekosistem dari sisi regulasi, energi, disposal dan aspek keamanan. Agus menilai kesiapan ekosistem ini menjadi kuncian bagaimana elektrifikasi otomotif di Indonesia lebih gampang diterima.
Menurut Agus elektrifikasi otomotif sangat terpengaruh dari kebijakan pemerintah. Bukan hanya untuk penggunaan di kota-kota besar, melainkan penggunaan di seluruh Indonesia. Lantaran ini akan menentukan bagaimana masyarakat bisa menerima kendaraan tipe baterai ini dengan cepat atau tidak.
“Saya melihat bahwa industri yang paling cepat menangkap dan beradaptasi dengan perubahan adalah industri otomotif. Kalau bisa dibilang, industrinya punya inisiatif tersendiri agar adaptasi ke kendaraan yang lebih ramah lingkungan itu lebih cepat. Memang kendaraan tidak ada yang benar-benar terbebas dari emisi gas buang, tapi dari sisi presentase yang ada, ya kita bisa bilang energi yang digunakan adalah energi terbarukan," ujarnya.
"Tinggal bagaimana pemerintah memberikan regulasi yang tepat dan menguntungkan bukan hanya dari sisi industri, namun juga lebih jauh ke masyarakat,” kata Agus.
Editor: Dani M Dahwilani