Penetrasi Kendaraan Listrik Belum Maksimal, Ini Tantangan Perkembangan EV di Indonesia
Dia mengungkapkan nikel dan kobalt menjadi bahan utama baterai litium-ion untuk mendukung pengembangan industri EV di dalam negeri. Indonesia memiliki cadangan nikel terbesar di dunia (22 persen) dan produsen nikel nomor satu dunia (36 persen), cadangan timah nomor dua dunia (17 persen) dan produksi timah nomor dua (23 persen).
“Kita harus mendorong hilirisasi, dari bahan mentah hingga sel baterai dan daur ulang, agar memberi nilai tambah maksimal dan memperkuat kemandirian nasional. Ini menjadi langkah tepat Indonesia mengembangkan kendaraan listrik,” ujarnya.
Hal yang menjadi sorotan Profesor Evvy adalah standar dan ukuran baterai belum sama. Ini menjadi salah satu aspek penting untuk mendukung keseragaman baterai yang digunakan.
Indonesia saat ini menargetkan pengembangan ekosistem EV domestik besar-besaran sebagai bagian dari komitmen penurunan emisi gas rumah kaca (GRK) dan transisi menuju ekonomi hijau, sejalan dengan visi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Salah satu agenda prioritas nasional dalam Asta Cita 2024–2029 adalah melanjutkan hilirisasi dan industrialisasi berbasis sumber daya alam untuk meningkatkan nilai tambah dan menciptakan lapangan kerja.
Editor: Dani M Dahwilani