Lampu Mobil Terlalu Terang Jadi Perdebatan di Kanada dan AS, Ganggu Pengendara Lain
Visibilitas Lebih Baik, Kecelakaan Lebih Rendah
Menurut temuan IIHS, kendaraan dengan sistem lampu depan berperingkat tinggi justru mencatat lebih sedikit kecelakaan tunggal pada malam hari. Selain itu, jumlah tabrakan dengan pejalan kaki setelah gelap juga menurun pada kendaraan dengan pencahayaan optimal.
Fenomena silau sendiri sering kali sulit tercatat secara statistik. Pengemudi yang merasa silau kerap keluar jalur tanpa melibatkan kendaraan lain, sehingga kendaraan penyebab silau tidak tercatat dalam laporan kecelakaan.
Data juga menunjukkan bahwa silau lebih sering terjadi di jalan dua lajur tanpa pembatas, kondisi jalan basah, serta pada pengemudi berusia lanjut. Pengemudi di atas 70 tahun disebut lebih sensitif terhadap cahaya terang dibanding kelompok usia lainnya.
Industri Mulai Berbenah
Meski demikian, industri otomotif tidak sepenuhnya lepas dari sorotan. Pada 2017, lebih dari 20 persen sistem lampu depan yang diuji IIHS menghasilkan silau berlebihan.
Untuk model tahun 2025, angka tersebut turun drastis menjadi hanya beberapa persen. Program penilaian keselamatan kini tidak hanya memberi penghargaan pada pencahayaan yang baik, tetapi juga menghukum desain yang menimbulkan silau berlebihan.
Teknologi bantuan pengemudi modern seperti lampu jauh otomatis juga membantu mengurangi risiko menyilaukan pengendara lain. Sistem pencegah keluar jalur dinilai dapat menekan potensi kecelakaan akibat gangguan visibilitas.
Debat lampu depan terlalu terang kini berada di persimpangan antara kenyamanan dan keselamatan. Di satu sisi, pengemudi menginginkan pengalaman berkendara malam yang lebih nyaman, namun di sisi lain data menunjukkan peningkatan kualitas pencahayaan justru berkontribusi pada penurunan angka kecelakaan.
Editor: Dani M Dahwilani