Lampu Mobil Terlalu Terang Jadi Perdebatan di Kanada dan AS, Ganggu Pengendara Lain
JAKARTA, iNews.id – Debat lampu depan terlalu terang kembali memanas setelah banyak pengemudi mengeluhkan silau lampu LED saat berkendara di malam hari. Keluhan itu bahkan sampai ke meja pembuat kebijakan di Kanada dan Amerika Serikat.
Sejumlah pengendara mengaku terganggu sorotan lampu mobil SUV dari arah berlawanan yang terasa seperti lampu stadion. Kondisi tersebut dinilai membuat pengalaman berkendara malam hari menjadi tidak nyaman, bahkan memicu kekhawatiran soal keselamatan.
Dilansir dari Carscoops, Selasa (17/2/2026), di Kanada, Anggota Dewan Kota Vancouver, Sean Orr, mengajukan mosi untuk menanggapi keluhan warga terkait silau lampu depan. Langkah itu dilaporkan oleh National Post.
Sementara di Amerika Serikat, Anggota Kongres Marie Gluesenkamp Perez juga telah mengangkat isu serupa sejak tahun lalu. Dia menyoroti meningkatnya keresahan publik terhadap lampu depan LED yang dianggap terlalu menyilaukan.
Data Keselamatan Ungkap Fakta Berbeda
Di tengah perdebatan tersebut, data dari Insurance Institute for Highway Safety (IIHS) menunjukkan gambaran yang lebih kompleks. Lembaga ini menganalisis data kecelakaan nyata dan menemukan bahwa silau lampu depan hanya berkontribusi pada sebagian kecil kecelakaan malam hari.
Antara 2015 hingga 2023, silau disebut hanya dalam satu atau dua dari setiap 1.000 kecelakaan malam hari di berbagai negara bagian. Angka tersebut relatif stabil meskipun intensitas dan teknologi lampu depan terus meningkat dalam periode yang sama.
IIHS menyatakan bahwa persoalan utama bukan sekadar tingkat kecerahan, melainkan cahaya liar yang masuk ke mata pengemudi. Dalam banyak kasus, visibilitas yang buruk akibat lampu lama atau desain jalan yang kurang memadai justru menjadi faktor risiko yang lebih besar.
Visibilitas Lebih Baik, Kecelakaan Lebih Rendah
Menurut temuan IIHS, kendaraan dengan sistem lampu depan berperingkat tinggi justru mencatat lebih sedikit kecelakaan tunggal pada malam hari. Selain itu, jumlah tabrakan dengan pejalan kaki setelah gelap juga menurun pada kendaraan dengan pencahayaan optimal.
Fenomena silau sendiri sering kali sulit tercatat secara statistik. Pengemudi yang merasa silau kerap keluar jalur tanpa melibatkan kendaraan lain, sehingga kendaraan penyebab silau tidak tercatat dalam laporan kecelakaan.
Data juga menunjukkan bahwa silau lebih sering terjadi di jalan dua lajur tanpa pembatas, kondisi jalan basah, serta pada pengemudi berusia lanjut. Pengemudi di atas 70 tahun disebut lebih sensitif terhadap cahaya terang dibanding kelompok usia lainnya.
Industri Mulai Berbenah
Meski demikian, industri otomotif tidak sepenuhnya lepas dari sorotan. Pada 2017, lebih dari 20 persen sistem lampu depan yang diuji IIHS menghasilkan silau berlebihan.
Untuk model tahun 2025, angka tersebut turun drastis menjadi hanya beberapa persen. Program penilaian keselamatan kini tidak hanya memberi penghargaan pada pencahayaan yang baik, tetapi juga menghukum desain yang menimbulkan silau berlebihan.
Teknologi bantuan pengemudi modern seperti lampu jauh otomatis juga membantu mengurangi risiko menyilaukan pengendara lain. Sistem pencegah keluar jalur dinilai dapat menekan potensi kecelakaan akibat gangguan visibilitas.
Debat lampu depan terlalu terang kini berada di persimpangan antara kenyamanan dan keselamatan. Di satu sisi, pengemudi menginginkan pengalaman berkendara malam yang lebih nyaman, namun di sisi lain data menunjukkan peningkatan kualitas pencahayaan justru berkontribusi pada penurunan angka kecelakaan.
Editor: Dani M Dahwilani