Vaksin Tifoid Pertama Buatan Indonesia Resmi Diluncurkan, BPOM Approved!
Menurut Taruna, BPOM memberikan dukungan terhadap pengembangan vaksin nasional melalui mekanisme registrasi jalur khusus untuk obat pengembangan baru dengan target penyelesaian dalam 100 hari kerja. Sebelum izin edar diterbitkan pada 2023, Bio-TCV telah melalui penilaian menyeluruh terhadap aspek mutu, keamanan, dan khasiat.
Selain proses registrasi, BPOM juga melakukan pengawasan dari tahap penelitian hingga produk beredar di masyarakat. Pengawasan tersebut mencakup pelaksanaan uji klinik di Indonesia, pemenuhan standar Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB), pemantauan sistem rantai dingin (cold chain), hingga farmakovigilans untuk memantau keamanan vaksin setelah digunakan.
Berdasarkan data BPOM periode Januari 2025 hingga Juli 2026, vaksin Bio-TCV telah diproduksi sebanyak dua bets atau 84.719 vial. Sementara data PT Bio Farma per 13 Juli 2026 mencatat total produksi mencapai 208.235 dosis, dengan 30.875 dosis di antaranya telah didistribusikan.
BPOM juga melakukan pengambilan sampel vaksin yang telah beredar untuk kembali diuji di laboratorium Pusat Pengembangan Pengujian Obat dan Makanan Nasional (PPPOMN). Langkah tersebut dilakukan guna memastikan mutu produk tetap terjaga selama proses distribusi.
Peluncuran Bio-TCV dilakukan di tengah masih tingginya kasus demam tifoid di Indonesia. Berdasarkan data Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) Kementerian Kesehatan, sepanjang 2025 tercatat sekitar 914 ribu kasus suspek tifoid. Sementara hingga pekan ke-16 tahun 2026, jumlahnya telah mencapai 266.869 kasus sehingga menempatkan tifoid sebagai salah satu dari lima penyakit dengan kasus tertinggi dalam sistem pemantauan tersebut.