Roy Suryo Wanti-Wanti Indonesia Tak Salah Bersikap terkait Perang AS-Israel Vs Iran
JAKARTA, iNews.id - Pakar Telematika, Multimedia, AI dan OCB Independen, Roy Suryo mengingatkan agar Indonesia tidak salah membaca situasi terkait perang Amerika Serikat (AS)-Israel dengan Iran. Pasalnya, dampak perang tersebut patut diwaspadai terhadap Tanah Air.
Roy menilai, Indonesia sedang 'ditarik' ke blok tertentu karena secara geopolitik Indonesia sedang mengalami tarik-menarik pengaruh. Menurut analisisnya, ada tarikan dari Barat, di mana AS memiliki kepentingan besar terhadap Indonesia, karena Indonesia sebagai negara Muslim terbesar memliki posisi strategis di jalur perdagangan dunia dan kekuatan ekonomi terbesar di ASEAN.
"Bentuk 'tarikan Barat' ini berupa kerja sama militer, latihan militer bersama, investasi teknologi serta tekanan diplomatik soal Iran," kata Roy dalam keterangan tertulis, Senin (9/3/2026).
Kemudian, Roy menilai ada upaya tarikan dari dunia keagamaan, di mana Iran dan negara Timur Tengah juga menginginkan Indonesia menjadi pemimpin dunia Islam moderat sekaligus jadi mediator konflik Palestina–Israel untuk menyeimbangkan kekuatan Barat.
Menlu: Presiden Prabowo Siap Jadi Mediator AS-Israel dan Iran
"Dalam pandangan saya (saat hadir dan bertemu langsung Pak Dubes Iran kemarin) sangat tampak Iran menghargai dukungan moral Indonesia. Sementara juga tidak bisa dilupakan ada 'tarikan dari China', di mana China juga memiliki kepentingan Belt and Road Initiative dengan investasi infrastruktur di jalur perdagangan Asia. Intinya China ingin Indonesia tidak terlalu dekat dengan blok Barat," ujarnya.
Mantan anggota DPR ini menegaskan, strategi Indonesia yang menganut politik luar negeri bebas dan aktif, menandakan harus terbebas dari blok militer dan aktif mendorong perdamaian.
Iran Tolak Negosiasi dengan AS, Indonesia Tetap Siap Jadi Mediator
"Karena itu Indonesia sering mencoba menjadi mediator konflik internasional di mana punya beberapa keunggulan diplomatik sebagai Negara Muslim terbesar, tidak punya konflik langsung dengan Israel maupun Iran dan tradisi diplomasi Non-Aligned Movement," tuturnya.