Respons Kemenekraf Disebut Biayai Film Animasi Merah Putih: One for All
Beberapa pihak membandingkannya dengan film animasi lokal lain seperti Jumbo yang dinilai jauh lebih unggul dari segi grafis maupun storytelling.
Premis Merah Putih: One for All menceritakan petualangan sekelompok anak dalam mencari bendera pusaka. Namun, alur cerita itu dianggap datar, penuh klise, dan mirip narasi iklan layanan masyarakat ketimbang film edukatif yang menyentuh hati.
Kritik juga datang pada dialog yang terdengar kaku. Banyak warganet menduga penggunaan suara berbasis artificial intelligence (AI) karena intonasi terdengar datar dan tidak sinkron dengan gerakan bibir.
Tak hanya visual dan cerita, film animasi garapan produser Toto Soegriwo itu juga disorot karena dugaan penggunaan aset 3D yang dibeli dari platform seperti Reallusion. Karakter dalam film terlihat memiliki kemiripan mencolok dengan model yang dijual di Content Store, sehingga menimbulkan pertanyaan soal orisinalitas.
Satu hal yang membuat publik makin terheran adalah informasi dana produksi film itu mencapai sekitar Rp6,7 miliar yang dibiayai pemerintah. Angka tersebut dinilai tidak sebanding dengan hasil trailer yang dirilis, sehingga memunculkan tanda tanya terkait alokasi dana produksi.
Terkait hal itu, Toto Soegriwo buka suara. Melalui unggahan akun X @totosoegriwo, dia menyatakan aliran dana sebesar itu merupakan tuduhan tidak benar dan fitnah keji.
"Kami tidak pernah menerima satu rupiah pun dana dari pemerintah," ujar Toto.
Editor: Rizky Agustian