Respons Dandhy Laksono Sutradara Dirty Vote Dipolisikan, Singgung Kasus Haris-Fatia
Dia mengaku tak merisaukan laporan tersebut. “Menurut saya enggak terlalu risau akan hal itu, karena memang saya punya materiel yang saya butuhkan untuk defence, yang pertama data atau informasi yang solid dan kredibel, kedua barisan orang-orang yang punya integritas, bahkan ketiga independensi dalam hal stand poin politik, enggak partisan,” ungkapnya.
Zainal Arifin: Film Dirty Vote Kedepankan Substansi Akademik, Bukan Sensasi
“Jadi 3 itu yang bikin saya confidence, dan memang di pertemuan pertama saya sampaikan bahwa saya enggak mau ada yang terafiliasi dengan paslon 01, 02, 03 yang terlibat dalam film ini. Saya ingin tutup semua pintu untuk kemungkinan orang melintir, melemahkan,” ujarnya.
Sebagai informasi, Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Forum Komunikasi Santri Indonesia (Foksi) melaporkan sutradara hingga tiga ahli hukum tata negara yang membintangi Dirty Vote ke Mabes Polri.
Ramai Film Dirty Vote, Dosen UGM: Ini sebagai Metode Pembelajaran yang Bagus
Ketua Umum Foksi, M Natsir Sahib menilai film Dirty Vote membuat kegaduhan di masa tenang pemilu dan menyudutkan salah satu pasangan calon (paslon).
"Dalam hal ini, kami berkonsultasi dengan pihak Bareskrim Mabes Polri untuk melaporkan dugaan pelanggaran Pemilu yang dilakukan oleh 3 akademisi yakni Feri Amsari, Zainal Arifin Muhtar, Bivitri Susantri serta Dandy Laksono selaku Sutradara Dirty Vote,” kata Natsir kepada wartawan, Selasa (13/2/2024).
Komentari Film Dirty Vote, Dosen UGM: Sumbangsih Akademisi untuk Pendidikan Politik
Editor: Rizky Agustian