Produsen Sulit Dapat Bahan Baku Plastik, Konsumen Diminta Berhemat
JAKARTA, iNews.id - Asosiasi Industri Olefin Aromatik dan Plastik Indonesia (Inaplas) mengungkapkan kesulitan memperoleh bahan baku plastik berupa nafta yang banyak dipasok dari negara Timur Tengah. Inaplas mewanti-wanti kelangkaan kemasan plastik di pasaran.
Sekretaris Jenderal (Sekjen) Inaplas, Fajar Budiono mengimbau kepada para konsumen agar menggunakan plastik seminimal mungkin. Pasalnya, kelangkaan bahan baku yang memicu inflasi harga kemasan plastik belum tahu akan berlangsung sampai kapan, menyusul ketidakpastian global.
"Jadi jangan sampai berlebihan juga untuk menggunakan plastik, contoh kalau kita belanja ya sudah kita tidak harus semua sudah pakai kantong plastik secara berlebihan. Kami harus benar-benar jaga stok sehingga kami mau minta kepada pengguna ya harus belanja sesuai dengan kebutuhannya saja," ujar Fajar kepada iNews.id, Senin (6/4/2026).
Fajar menambahkan, produsen dalam kondisi yang tak ingin bertaruh risiko bisnis. Dia menekankan, para produsen belum berani menambah stok bahan baku untuk memproduksi plastik di saat harga sedang tinggi seperti saat ini. Kalkulasi bisnis ini merujuk pada sejarah krisis periode 1998 dan 2008.
Harga Plastik Naik Signifikan, Pedagang Curhat Sepi Pembeli
Merujuk Trading Economics, bahan baku plastik berupa nafta naik (1,08 persen) menjadi 995,66 dolar AS/T pada 6 April 2026. Selama sebulan terakhir, harga nafta naik 27,77 persen, dan naik 86,31 persen dibandingkan dengan waktu yang sama tahun lalu.
"Kalau kami lihat tahun 2008 itu harga (bahan baku plastik) bisa sampai 2.100 dolar AS per metric ton, tapi tiba-tiba besok turun jadi 1.200. Sehingga yang pegang stok rugi banyak dan banyak yang tutup, itu yang yang dihindari sekarang karena ketidakpastian ini enggak tahu berubahnya kapan, karena waktunya tidak ada yang bisa memprediksikan dan itu di luar kontrol kita," tuturnya.
Pramono soal Kenaikan Harga Plastik dan Kedelai: Nggak Perlu Panic Buying, Stoknya Lebih dari Cukup