Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Musim Pancaroba, BMKG: Waspada Cuaca Ekstrem hingga Hujan Es Sepekan ke Depan
Advertisement . Scroll to see content

Pancaroba Tiba! BMKG: Waspada Cuaca Panas Bisa Tiba-Tiba Hujan

Jumat, 17 April 2026 - 11:07:00 WIB
Pancaroba Tiba! BMKG: Waspada Cuaca Panas Bisa Tiba-Tiba Hujan
BMKG mengeluarkan peringatan dini potensi cuaca terik dan hujan bergantian selama masa pancaroba atau peralihan musim hujan ke kemarau. (Foto: iNews.id)
Advertisement . Scroll to see content

Dalam sepekan ke depan, BMKG memprediksi kondisi cuaca di Indonesia masih dipengaruhi oleh dinamika atmosfer dalam skala global, regional, dan lokal. Pada skala global, fenomena El Niño–Southern Oscillation (ENSO) dan Indian Ocean Dipole (IOD) masih berada pada fase netral.

“Sementara itu, pada skala regional, Monsun Australia terpantau semakin menguat dan diprakirakan masih bertahan dalam beberapa hari ke depan, sehingga mendorong masuknya massa udara yang relatif kering dari Australia ke wilayah Indonesia. Dominasi angin timuran di sebagian besar wilayah Indonesia juga mengindikasikan bahwa beberapa daerah mulai berangsur memasuki masa peralihan dari musim hujan menuju musim kemarau,” jelasnya.

Meski demikian, BMKG mengungkapkan potensi hujan masih dapat terjadi akibat pengaruh dinamika atmosfer lainnya. Di Aceh dan Sumatra Utara, potensi hujan dipengaruhi oleh aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO), gelombang Rossby Ekuatorial, dan gelombang Mixed-Rossby Gravity (MRG) yang diprakirakan aktif pada periode yang berbeda.

Di Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Papua Selatan, potensi hujan dipengaruhi oleh aktivitas gelombang Rossby Ekuatorial. Sementara itu, di Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Selatan, potensi hujan dipengaruhi oleh aktivitas gelombang Kelvin. Berbagai dinamika atmosfer tersebut dapat memicu terbentuknya daerah konvergensi dan konfluensi yang mendukung pertumbuhan awan hujan di wilayah-wilayah tersebut.

“Pada skala lokal, kondisi labilitas lokal kuat yang mendukung proses konvektif terdapat di Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Lampung, Kepulauan Riau, Kepulauan Bangka Belitung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Nusa Tenggara Timur, Papua,” paparnya.

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut