Nikita Mirzani Tulis Surat dari Rutan Pondok Bambu, Singgung Ketidakadilan Hukum
Dari proses di Polda hingga meja persidangan, saya melihat hukum dimainkan seperti barang dagangan. Pasal-pasal diganti sesuka hati, seolah-olah kebenaran bisa dicocok-cocokkan demi sebuah hukuman yang dipaksakan. Di mana nurani itu disimpan ketika hukum tak lagi menjadi pelindung, melainkan senjata untuk menghancurkan hidup seseorang?
Satu tahun sudah saya terkunci di sini. Tiga ratus enam puluh lima hari saya jalani untuk kesalahan yang tidak pernah saya lakukan. Namun, bukan jeruji besi ini yang paling menyakitkan. Yang menghancurkan jiwa saya adalah bayangan tiga wajah mungil di rumah—anak-anak saya.
Setiap malam, dinding sel ini seolah berbisik mengulang suara tangis mereka. Mereka tidak butuh pasal-pasal hukum; mereka butuh pelukan ibunya. Mereka tidak butuh debat hukum di pengadilan; mereka butuh kehadiran saya untuk sekadar membelai rambut mereka sebelum tidur.
Di usia mereka yang masih sangat dini, mereka dipaksa mengerti mengapa ibu mereka diperlakukan seperti penjahat besar, padahal satu-satunya "dosa" saya adalah mencoba bertahan di tengah badai yang diciptakan orang lain.
Apakah keadilan memang sesempit ini? Hingga tega memisahkan seorang ibu dari anak-anaknya demi sebuah ego kekuasaan?