Menlu: Palestina Sudah Tahu dan Paham soal Pengiriman Pasukan RI ke Gaza
JAKARTA, iNews.id - Menteri Luar Negeri Indonesia Sugiono memastikan Palestina memahami pengiriman International Stabilization Force (ISF) atau Pasukan Stabilisasi Internasional ke Gaza. Sebab, ada perwakilan Palestina yang ikut pada pertemuan Board of Peace (BoP) di Washington DC, Amerika Serikat (AS).
“Kemarin juga ada kan Palestina, kemarin Prof Dr Ali Shaath ada di sana sebagai perwakilan Palestina yang juga merupakan Chairman of NCAG, National Committee on Administration of Gaza,” kata Sugiono di Washington DC, Jumat (20/2/2026) waktu setempat.
“Jadi Palestina juga sudah ada di sana, sudah tahu, sudah paham, kemudian kita juga sudah menyampaikan National Caveat kita, jadi semuanya sudah terlibat,” sambung dia.
Dalam forum itu, Ali Shaath menyampaikan, Palestina membutuhkan situasi yang aman dan stabil. Kemudian, tahap-tahap selanjutnya akan dilakukan di Gaza.
Trump Akan Bangun Pangkalan Militer di Gaza, Tampung 5.000 Pasukan Stabilisasi Gaza
"Pertama, yang mereka butuhkan adalah situasi yang aman dan stabil. Jadi semua rencana komprehensif, kunci pertamanya adalah gencatan senjata, kemudian menciptakan suasana yang aman dan stabil. Baru tahap-tahap berikutnya itu bisa dilakukan dan itu juga kemarin sudah disampaikan," ujar dia.
Israel Ngeyel, Tak Akan Tinggalkan Gaza 1 Milimeter pun
Sementara itu, Sugiono menjelaskan, penugasan Indonesia sebagai Wakil Komandan ISF tidak berkaitan dengan ada atau tidaknya hubungan diplomatik dengan Israel. Menurutnya, mandat ISF semata-mata untuk menjaga perdamaian.
“Karena ini kan bukan kaitannya dengan pengakuan atau ada tidaknya hubungan diplomatik. Ini adalah pasukan yang mendapatkan mandat untuk menjaga perdamaian, terdiri dari berbagai unsur yang tugasnya intinya adalah menjaga situasi,” ungkapnya.
Sugiono mengatakan dalam petunjuk pelaksanaan dari mandat ISF, setiap negara yang berpartisipasi memiliki ruang untuk menyampaikan batasan atau National Caveat. Indonesia, kata dia, telah menegaskan batasan tersebut secara jelas.
“National Caveat kita juga sudah kita sampaikan ke ISF, kalau kita tidak melakukan operasi militer, kemudian kita tidak melakukan pelucutan senjata, kita tidak melakukan apa yang disebut demiliterisasi,” ujar Sugiono.
Editor: Puti Aini Yasmin