Kurban dan Keberlanjutan
Itu semua baru urusan dengan orang-orang di masa kini. Ternyata dalam urusan dengan mereka yang hidup berjauhan atau ada di masa mendatang tentu kita lebih parah lagi. Kita semua menyatakan rasa sayang kepada anak dan cucu, tetapi apakah tindakan kita secara kolektif mencerminkan hal itu?
Sayangnya tidak. Kalau Nabi Ibrahim hendak mengorbankan anaknya karena perintah Allah, sekarang kita sebetulnya sedang mengorbankan anak-cucu kita karena keserakahan.
Yang saya maksudkan adalah perilaku kita yang merusak bumi dalam kecepatan sangat tinggi. Lantaran cara kita hidup, tahun ini jatah kita hidup hingga 31 Desember 2020 sudah kita habiskan pada 22 Agustus. Itu adalah tanggal Earth Overshoot Day 2020. Itu berarti, setelah tanggal itu nanti, kita akan mengambil jatah anak-cucu.
Dalam hitungan kasar, kita telah menggunakan lebih dari 1,5 bumi untuk memenuhi hajat hidup, dan dari tahun ke tahun tampak meningkat terus, tanpa meminta izin kepada generasi mendatang.
Kalau kita periksa jejak ekologis bumi, segala aktivitas manusia yang menghasilkan emisi gas rumah kaca adalah penyebab mengapa kita mengorbankan generasi mendatang itu. Bahkan, kalau dipikirkan lebih jauh, apa yang terjadi pada ritual kurban, sangat lah terkait dengan itu. Situs greeneatz.com memberikan data bahwa produksi setiap kilogram daging sapi menghasilkan 27 kilogram emisi setara karbon, yang reratanya sama dengan bila kita berkendara 100 kilometer!
Domba bahkan lebih tinggi lagi, karena produksi setiap kilogram dagingnya menghasilkan 39,2 kilogram emisi atau setara perjalanan dengan mobil sejauh 145 kilometer.
Bagaimana menyembelih hewan kurban dengan tetap menjaga solidaritas sosial kepada generasi mendatang? Salah satunya dengan melakukan tindakan pengurangan emisi, atau setidaknya setara dengan jumlah emisi yang kita keluarkan. Kalau kita berkurban seekor sapi dtau domba, kita harus tahu berapa emisi yang harus kita kompensasi.
Mungkin ada baiknya mempertimbangkan untuk membayar ‘pajak karbon’ sesuai dengan nilai social cost of carbon, kepada pihak-pihak yang mengelolanya. Ada perhitungan yang menyatakan setiap ton karbon sekarang bernilai 37-56 dolar Amerika Serikat, tergantung metodologi perhitungan dan asumsi-asumsi yang dipergunakan.
Van den Bergh dan Botzen, dalam meta-analisisnya pada 2014 menyimpulkan bahwa harga rerata yang disarankan para ilmuwan yaitu 125 dolar AS.
Kalau kita benar-benar hendak menegakkan solidaritas sosial sebagaimana yang dikhutbahkan oleh para khatib, agaknya kita perlu memikirkan masak-masak soal apa yang seharusnya kita lakukan kepada generasi mendatang, termasuk soal emisi. Mungkin itu juga mendasari hadits yang menyatakan bahwa kita perlu menanam pohon hari ini walaupun besok hari kiamat.
Selain itu, tentu saja, solidaritas sosial kepada siapapun-terutama kepada mereka yang miskin-perlu kita tunjukkan sepanjang waktu. Karena berbagi daging sesungguhnya hanyalah simbol komitmen itu.
Selamat Idul Adha 1441 H.
Editor: Zen Teguh