Kurban dan Keberlanjutan
Zainal Abidin, Kandidat Doktor Unsoed.
Jalal, Aktivis Keberlanjutan.
PADA mulanya adalah ujian keikhlasan Allah SWT kepada Nabi Ibrahim dan putranya, Ismail. Sang Nabi diperintahkan untuk menyembelih anak semata wayangnya dari Siti Hajar itu. Sang ayah dan putranya pun akhirnya lulus ujian, dan Allah dengan caranya sendiri mengganti Ismail dengan seekor gibas yang gemuk.
Peristiwa itu kini diabadikan dalam sebuah ritual ibadah umat Islam se-dunia yang disebut kurban. Ketika sebagian kaum muslim berada di Tanah Suci untuk menunaikan ibadah haji, mereka yang belum berkesempatan ke sana melaksanakan penyembelihan hewan di kediamannya masing-masing, lalu membagikannya kepada anggota masyarakat yang membutuhkan.
Dalam banyak khutbah Idul Adha yang saya dengar, nilai-nilai solidaritas menjadi salah satu hikmah terpenting dalam ritual kurban. Para khatib menyatakan bahwa daging kurban harus dibagikan kepada kaum miskin-papa lantaran mereka perlu merasakan kegembiraan di hari raya Idul Adha.
Kondisi kehidupan serba kekurangan, membuat daging menjadi sesuatu yang jarang mereka nikmati. Tetapi, penting untuk diingat, solidaritas di hari itu harus diartikan sebagai simbolik saja. Kurban, semestinya dipandang sebagai komitmen untuk mengayomi mereka, bukan pada saat Idul Adha saja.
Dengan demikian, makna simbolik distribusi daging boleh jadi sangat penting. Di sisi lain, keputusan dan tindakan yang tidak merugikan kaum miskin, juga menolong mereka keluar dari kubangan kemiskinan, seharusnya menjadi lebih penting lagi.
Sayangnya, justru di titik itulah kita lebih banyak gagalnya. Dalam banyak kejadian sehari-hari, kita kerap melakukan tindakan-tindakan yang merugikan mereka. Alih-alih melindungi dan memberdayakan kaum miskin sepanjang waktu, kita malah menzaliminya.
Di dalam ranah domestik, sebagai contoh, apakah mereka yang menyembelih hewan kurban telah membayar peluh asisten rumah tangganya dengan memadai? Apakah perlakuan-perlakuan para majikan kepada mereka sudah bisa dikatakan beradab dalam hubungan sesama manusia? Sudahkah hak-hak mereka mendapatkan masa istirahat yang cukup, pun sudah terpenuhi?
Di hari-hari menjelang Idul Adha 2020 ini, saya membayangkan kerja panitia kurban menjadi lebih komprehensif. Mereka bukan sekadar menyiapkan, menyembelih dan membagikan daging kurban, tetapi juga melakukan identifikasi, apa saja sesungguhnya kebutuhan kelompok miskin di wilayah kerjanya. Selanjutnya, mereka juga memikirkan bagaimana kelompok mustad'afin itu bisa ditolong.
Dalam kondisi pandemi seperti sekarang ini, hikmah ritual kurban sebagai penguatan solidaritas sosial menjadi semakin penting. Sejujurnya, kita sedang berada pada masa di mana solidaritas sosial bukan saja sedang menurun, melainkan juga tercabik. Tenunan keislaman dan kebangsaan kita tampak sedang terurai, helai demi helai benangnya terlepas, atau bahkan seperti sedang dicerabut dengan sangat keras.
Kini, perilaku kita sendiri banyak yang jauh dari nilai-nilai Islam. Korupsi merajalela. Membayar murah para pekerja dipandang biasa saja. Jalan raya menjadi cermin tipisnya kesadaran tentang hak dan keamanan orang lain.
Persekusi kepada pihak yang dianggap melakukan tindakan yang melukai kelompok tertentu, menjadi kewajaran baru. Pemukulan dan pembakaran terhadap orang yang disangka mencuri, semakin kerap terjadi. Entah berapa banyak lagi contoh yang bisa disebutkan untuk menggambarkan, bahwa solidaritas sosial yang dikhutbahkan para khatib dari mimbar Idul Adha, sejatinya memang dalam kondisi darurat.
Itu semua baru urusan dengan orang-orang di masa kini. Ternyata dalam urusan dengan mereka yang hidup berjauhan atau ada di masa mendatang tentu kita lebih parah lagi. Kita semua menyatakan rasa sayang kepada anak dan cucu, tetapi apakah tindakan kita secara kolektif mencerminkan hal itu?
Sayangnya tidak. Kalau Nabi Ibrahim hendak mengorbankan anaknya karena perintah Allah, sekarang kita sebetulnya sedang mengorbankan anak-cucu kita karena keserakahan.
Yang saya maksudkan adalah perilaku kita yang merusak bumi dalam kecepatan sangat tinggi. Lantaran cara kita hidup, tahun ini jatah kita hidup hingga 31 Desember 2020 sudah kita habiskan pada 22 Agustus. Itu adalah tanggal Earth Overshoot Day 2020. Itu berarti, setelah tanggal itu nanti, kita akan mengambil jatah anak-cucu.
Dalam hitungan kasar, kita telah menggunakan lebih dari 1,5 bumi untuk memenuhi hajat hidup, dan dari tahun ke tahun tampak meningkat terus, tanpa meminta izin kepada generasi mendatang.
Kalau kita periksa jejak ekologis bumi, segala aktivitas manusia yang menghasilkan emisi gas rumah kaca adalah penyebab mengapa kita mengorbankan generasi mendatang itu. Bahkan, kalau dipikirkan lebih jauh, apa yang terjadi pada ritual kurban, sangat lah terkait dengan itu. Situs greeneatz.com memberikan data bahwa produksi setiap kilogram daging sapi menghasilkan 27 kilogram emisi setara karbon, yang reratanya sama dengan bila kita berkendara 100 kilometer!
Domba bahkan lebih tinggi lagi, karena produksi setiap kilogram dagingnya menghasilkan 39,2 kilogram emisi atau setara perjalanan dengan mobil sejauh 145 kilometer.
Bagaimana menyembelih hewan kurban dengan tetap menjaga solidaritas sosial kepada generasi mendatang? Salah satunya dengan melakukan tindakan pengurangan emisi, atau setidaknya setara dengan jumlah emisi yang kita keluarkan. Kalau kita berkurban seekor sapi dtau domba, kita harus tahu berapa emisi yang harus kita kompensasi.
Mungkin ada baiknya mempertimbangkan untuk membayar ‘pajak karbon’ sesuai dengan nilai social cost of carbon, kepada pihak-pihak yang mengelolanya. Ada perhitungan yang menyatakan setiap ton karbon sekarang bernilai 37-56 dolar Amerika Serikat, tergantung metodologi perhitungan dan asumsi-asumsi yang dipergunakan.
Van den Bergh dan Botzen, dalam meta-analisisnya pada 2014 menyimpulkan bahwa harga rerata yang disarankan para ilmuwan yaitu 125 dolar AS.
Kalau kita benar-benar hendak menegakkan solidaritas sosial sebagaimana yang dikhutbahkan oleh para khatib, agaknya kita perlu memikirkan masak-masak soal apa yang seharusnya kita lakukan kepada generasi mendatang, termasuk soal emisi. Mungkin itu juga mendasari hadits yang menyatakan bahwa kita perlu menanam pohon hari ini walaupun besok hari kiamat.
Selain itu, tentu saja, solidaritas sosial kepada siapapun-terutama kepada mereka yang miskin-perlu kita tunjukkan sepanjang waktu. Karena berbagi daging sesungguhnya hanyalah simbol komitmen itu.
Selamat Idul Adha 1441 H.
Editor: Zen Teguh