Kisah Gayatri Rajapatni, Srikandi Tersembunyi di Balik Kejayaan Majapahit
Tribhuwana menjelaskan bahwa selama ini dia dan Gajah Mada mampu saling melengkapi dalam memimpin negeri.
Dia juga menegaskan tetap memiliki otoritas spiritual dan legitimasi kerajaan yang mengimbangi kekuasaan sang Mahapatih.
Gayatri menyadari bahwa masa kepemimpinannya sudah berakhir dan Hayam Wuruk akan segera menggantikan Tribhuwana.
Dia menyarankan dibentuknya dewan penasihat khusus serta dewan keluarga yang berisi Tribhuwana, Rajadewi Maharajasa dan para suaminya.
Tujuannya agar Hayam Wuruk tidak sendirian dalam menghadapi kompleksitas pemerintahan saat masih sangat muda. Lebih jauh, Gayatri bahkan mengusulkan agar Gajah Mada pensiun dini saat Hayam Wuruk genap berusia 21 tahun.
Dia juga meminta Mahapatih legendaris itu menyiapkan kader pengganti dalam 5 tahun ke depan.
Sayangnya, usulan Gayatri tidak disambut baik oleh Gajah Mada. Meski tak menunjukkan penolakan secara terbuka karena hormat pada mantan ratu, dia tetap menyatakan komitmennya untuk terus menjabat.
Gajah Mada menyatakan bahwa dia hanya akan mundur jika kekuatannya tak lagi berguna bagi imperium Majapahit.
Hal ini menimbulkan kekecewaan tersendiri bagi Gayatri, yang merasa Mahapatih itu terlalu lekat pada kekuasaan.
Dari respons tersebut, Gayatri menyimpulkan Gajah Mada tampaknya ingin terus berkuasa dan berpengaruh besar terhadap sang raja muda. Sebuah potensi yang membuat Gayatri khawatir akan terjadinya ketidakseimbangan kekuasaan di masa depan Majapahit.
Editor: Donald Karouw