Kisah Evan Dimas Menepi ke Desa, Tinggalkan Stadion Kini Latih Anak-anak di Lapangan Sawah
“Sebagian orang bilang saya masih moncer. Tapi ini pilihan. Saya ingin berkontribusi lewat cara berbeda,” ucapnya.
Di desa kecil ini, Evan menjadi lebih dari sekadar pelatih. Ia merupakan panutan. Anak-anak memanggilnya Kak Evan, mendengarkan setiap arahannya, menirukan setiap gerakan latihan dan menyerap semangat serta etika yang dia tanamkan.
“Sepak bola bukan sekadar menang atau kalah. Ini soal karakter,” katanya.
Kontribusi Evan di lapangan sederhana ini membuktikan bahwa peran mantan pemain nasional tidak selalu harus berada di balik sorotan media. Justru, dengan membina akar rumput, dia membangun masa depan sepak bola Indonesia dari dasar yang kokoh.
Di lapangan yang hanya dibatasi sawah dan tiupan angin lembut, Evan Dimas kini mencetak ‘bintang-bintang kecil’ dengan semangat besar.
Dan di tempat sederhana inilah, mimpi-mimpi sepak bola Indonesia kembali ditanamkan. Bukan dengan glamor, tapi dengan dedikasi dan cinta yang tulus.
Editor: Donald Karouw