Keren! Mahasiswa ITS Bikin Drone untuk Bantu Kurangi Kecelakaan Kerja
Mahasiswa kelahiran Gresik ini menuturkan, cara kerja dari ERASTY dimulai dari sistem perangkat kerasnya berupa rangkaian sensor akan menerima sinyal dari kondisi lingkungan kerja. Nantinya sinyal yang ditangkap dikirim ke perangkat lunak yang akan menentukan potensi bahaya di lingkungan kerja.
Ketika ERASTY mengidentifikasi tindakan atau kondisi yang tidak aman, sistem peringatan akan diaktifkan sebagai pengingat pekerja tentang bahaya tersebut. “Dari proses identifikasi itu, hasil scan (pemindaian) akan diterima dan disimpan oleh operator komputer,” kata Hammam.
Dia mengungkapkan, untuk membuat AI dari ERASTY bisa mendeteksi suatu objek, timnya harus melatih program tersebut terlebih dulu dengan memasukkan kumpulan data yang relevan. Dalam kasus ERASTY, salah satu data yang dimasukkan berupa foto-foto APD.
“Semakin lama waktu latihan, akurasi pendeteksiannya semakin tinggi dan semakin cepat juga,” ujarnya.
Selama 14 hari masa pelatihan, durasi rata-rata ERASTY untuk mengidentifikasi objek adalah 410,1 milidetik. Tingkat akurasi tertinggi yang dapat dicapai dalam identifikasi objek ERASTY adalah 90,87 persen, sedangkan waktu penangkapan gas tercepat diperoleh dalam durasi 1 detik dengan jarak sumber gas 10 cm.