Fitch Pangkas Outlook Utang RI Jadi Negatif, Kemenkeu Buka Suara
JAKARTA, iNews.id - Kementerian Keuangan (Kemenkeu) merespons langkah lembaga pemeringkat global, Fitch Ratings yang mengubah outlook atau prospek surat utang global jangka panjang milik Indonesia dari stabil ke arah negatif pada level BBB atau layak investasi. Apa katanya?
Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kemenkeu Deni Surjantoro menyampaikan pemerintah senantiasa memegang teguh komitmen dalam merawat stabilitas makroekonomi sekaligus meneruskan tradisi disiplin fiskal sesuai dengan amanat perundang-undangan yang berlaku.
"Percepatan belanja dan stimulus ekonomi dilakukan secara terukur untuk mempertahankan momentum pertumbuhan yang terus meningkat, dengan tetap memastikan APBN sehat dan disiplin fiskal terjaga,” ujar Deni dalam keterangannya, Rabu (4/3/2026).
Dia mengemukakan rentetan upaya perbaikan yang dieksekusi oleh Kemenkeu telah menampakkan hasil positif. Menyusul capaian pertumbuhan yang impresif di angka 5,39 persen pada triwulan keempat 2025, sederet indikator utama pergerakan aktivitas ekonomi pada permulaan 2026 konsisten memperlihatkan tren pemulihan yang menggembirakan.
Outlook 2026: Deretan Brand Mobil Baru Siap Panaskan Pasar Otomotif Indonesia
Hal ini tecermin dari menguatnya indeks keyakinan konsumen atau purchasing manager’s index (PMI), serapan listrik untuk sektor bisnis dan industri, hingga angka penjualan kendaraan bermotor baik mobil maupun sepeda motor.
Tidak berhenti di situ, iklim dunia usaha juga akan terus dibenahi oleh pemerintah. Sejumlah strategi yang disiapkan mencakup langkah debottlenecking atau penguraian hambatan serta deregulasi demi memacu gairah investasi dan mempercepat laju pertumbuhan ekonomi, di samping upaya memperkokoh reformasi struktural agar ketahanan ekonomi nasional makin solid.
Outlook 2026: Bocoran Deretan Mobil Baru Bakal Meluncur Tahun Ini
Beralih ke ranah fiskal, lonjakan perbaikan yang mencolok juga berhasil dicatatkan. Merujuk pada pemaparan Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa, performa pendapatan negara pada awal 2026 tampil sangat prima dengan raihan pertumbuhan year-on-year (yoy) sebesar 9,5 persen pada Januari dan meroket hingga 12,8 persen pada Februari.
Outlook 2026: IHSG Diproyeksi Tembus Level 9.000, Efek Danantara Jadi Sorotan
Pencapaian ini utamanya ditopang oleh tingginya penerimaan pajak yang melambung hingga 30,7 persen (yoy) di bulan pertama dan 30,4 persen (yoy) di bulan kedua.
Sejalan dengan hal tersebut, serapan belanja negara turut membukukan pertumbuhan yang masif yakni menyentuh angka 25,7 persen (yoy) selama Januari dan melonjak ke posisi 41,9 persen (yoy) pada bulan Februari.
Deni menjabarkan sinergi lintas sektoral terus dipacu oleh pemerintah guna memastikan ritme akselerasi pertumbuhan ekonomi mampu bertahan dalam jangka menengah, tanpa mengorbankan aspek stabilitas.
Sinkronisasi antara kebijakan fiskal dan moneter juga senantiasa diutamakan sebagai bentuk penjagaan terhadap tingkat kepercayaan pasar, sekaligus mengawal kelancaran program-program prioritas agar dapat dieksekusi secara efektif serta akuntabel.
Pada waktu yang bersamaan, jalinan kemitraan dengan Danantara terus diintensifkan mengingat perannya sebagai motor penggerak pertumbuhan baru yang memacu roda perekonomian lewat jalur investasi strategis di luar instrumen APBN.
Dia menekankan institusi ini dioperasikan dengan orientasi pada keuntungan yang berkelanjutan, sekaligus difungsikan untuk memancing masuknya investasi swasta yang memiliki nilai tambah tinggi.
“Tata kelola dan operasional Danantara dijaga kredibilitasnya dengan risiko yang terukur, sehingga Danantara menjadi instrumen investasi strategis yang kredibel, terkelola dengan baik, dan selaras dengan stabilitas makro fiskal jangka panjang,” katanya.
Deni menambahkan, ketetapan afirmasi ini sejatinya adalah fase pengujung dari proses asesmen yang dikerjakan oleh Fitch, menyusul rangkaian lawatan mereka ke Jakarta pada 23 hingga 26 Februari 2026 lalu.
Dalam rentang waktu tersebut, tim Fitch telah menggelar serangkaian diskusi bersama sejumlah kementerian/lembaga (K/L) dan otoritas terkait yang meliputi Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, BP BUMN, Otoritas Jasa Keuangan, Danantara, hingga Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal.
Berangkat dari dinamika tersebut, proses penilaian di masa mendatang oleh berbagai agensi pemeringkat dunia, tak terkecuali Fitch, diharapkan dapat berlangsung secara lebih komprehensif, khususnya dalam mengamati langkah-langkah intervensi pemerintah demi mempertahankan fundamental ekonomi bangsa.
"Dengan fondasi ekonomi yang kuat, disiplin fiskal yang terjaga, dan reformasi struktural yang terus berlanjut, Indonesia tetap berada di jalur yang positif untuk memperkuat pertumbuhan dan ketahanan ekonomi jangka menengah," kata dia.
Fitch menyatakan telah merevisi prospek issuer default rating (IDR) atau peringkat gagal bayar penerbit jangka panjang untuk mata uang asing milik Indonesia ke arah negatif, seraya mengukuhkan kembali posisinya di peringkat BBB.
Keputusan penyesuaian prospek ini diambil karena Fitch melihat adanya lonjakan ketidakpastian arah kebijakan. Terdapat pula kecemasan terkait menurunnya tingkat kepercayaan serta konsistensi dari kombinasi kebijakan ekonomi nasional, terutama ketika wewenang pengambilan keputusan semakin terpusat.
"Penegasan peringkat mencerminkan rekam jejak Indonesia dalam menjaga stabilitas makroekonomi, pertumbuhan jangka menengah yang menguntungkan, rasio utang pemerintah/PDB yang moderat, dan cadangan eksternal yang moderat," bunyi draf laporan Fitch.
Editor: Rizky Agustian