Epidemiolog Jelaskan Penyebab Kasus Covid-19 di Indonesia Tak Pecahkan Rekor seperti di Eropa hingga AS
Belum lagi karakter masyarakat Indonesia bukan orang yang kalau sakit langsung berobat ke Rumah Sakit. Hal ini berdasarkan survei BPS, di mana masyarakat Indonesia kalau sakit 80 persen berobat di rumah saja.
"Kemampuan kita terbatas, jangan terpaku pada data saja, karena ini fenomena gunung es. Di Indonesia agak telat 2-3 bulan dibandingkan dengan Amerika dan Eropa. Karena keterbatasan 3T kita sudah terlihat di dua gelombang sebelumnya," tegas dia.
Dia kemudian memberikan contoh negara lainnya, seperti Australia, tepatnya New South Wales, dengan kondisi masyarakat paling abai padahal sudah memiliki vaksinasi lengkap hampir 90 persen tetapi kasus tinggi kasus penyebaran Omicron.
"Artinya kita tidak boleh menyepelekan. Di Queensland saja banyak yang sudah kembali WFH. Banyak orang berdiam diri di rumah-rumah. Vaksinasi saja tidak menjamin. Komorbid dan lansia, serta anak-anak menjadi kelompok paling rentan. Meskipun gejala ringan tapi dampak pada sektor ekonomi, kesehatan itu cukup berdampak. Misalkan di Australia ada persoalan terkait pasokan makanan, tes Covid-19," lanjut.
Dicky Budiman menyebutkan belum ada satupun negara di dunia ini yang disebut berhasil menangani pandemi Covid-19. Sehingga semua pihak diminta tetap waspada dan tidak abai dengan protokol kesehatan.
"Untuk meningkatkan kewaspadaan, saya sudah mengingatkan potensi dua gelombang sebelumnya jauh hari dan muncul korban. Di dunia ini dalam menghadapi gelombang Covid-19 belum ada negara yang dikatakan berhasil. Kita harus waspada, Omicron bukan sepele dan varian lemah. Dia bisa berdampak pada masyarakat yang memiliki imunitas itu artinya serius," tutup Dicky.
Editor: Puti Aini Yasmin