Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Menkes Pastikan Super Flu Tak Mematikan seperti Covid-19: Gak Usah Khawatir
Advertisement . Scroll to see content

Epidemiolog Jelaskan Penyebab Kasus Covid-19 di Indonesia Tak Pecahkan Rekor seperti di Eropa hingga AS

Selasa, 11 Januari 2022 - 11:03:00 WIB
Epidemiolog Jelaskan Penyebab Kasus Covid-19 di Indonesia Tak Pecahkan Rekor seperti di Eropa hingga AS
Ilustrasi Covid varian baru. (Foto: Istimewa)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA - iNews.id - Kasus Covid-19 diketahui tak pernah memecahkan rekor, seperti di Eropa atau di Amerika Serikat. Terkait hal itu, Epidemiolog dari Griffith University Australia, Dicky Budiman menjelaskan penyebabnya.

Menurut dia, pada dasarnya kasus Covid-19 di sejumlah negara saat ini mengalami peningkatan cukup drastis. Bahkan, di Australia, Amerika Serikat, dan Eropa kasusnya memecahkan rekor tertinggi.

"Kasusnya bisa banyak bahkan melebihi 300.000 kasus per hari. Di Amerika, Eropa, Australia, kasus Covid-19 harian, mingguan, memecahkan rekor. Bahkan kasus dunia juga memecahkan rekor. Baik angka kasus maupun hunian rumah sakit," terang Dicky, Selasa (11/1/2022), ketika dikonfirmasi.

Namun, kata dia, kini sudah banyak masyarakat yang memiliki imunitas karena vaksinasi, pernah terinfeksi, atau justru sudah terinfeksi dan sudah divaksinasi. Maka penyebaran varian Omicron menjadi samar.

Oleh karena banyak orang yang memiliki imunitas., penyebaran Omicron menjadi silent, tidak bergejala, yang jumlahnya hampir 90 persen. 

"Apalagi di tengah keterbatasan daya deteksi Omicron. Jadi tidak bisa mendeteksi dengan cepat penyebaran Covid-19 Omicron di Indonesia," tutur dia.

Apalagi, kasus Covid-19 varian Omicron yang terdeteksi dan dilaporkan itu bergantung pada kemampuan setiap daerah dan negara. Indonesia dinilai belum memiliki kemampuan yang baik untuk mendeteksi Omicron.

Akibatnya, jumlah kasus tidak terdeteksi sehingga belum ada laporan kasus Covid-19 pecahkan rekor di Indonesia. Padahal, Omicron telah menyebar di antara masyarakat.

"Indonesia tidak memiliki kemampuan deteksi testing yang mumpuni, 500.000 per hari saja belum bisa. Pernah 250.000 sekali atau dua kali, tapi kemudian menurun. Jadi bukan kasusnya sedikit tapi karena sistem deteksi dini kita belum mampu mendeteksi kasus sebanyak tersebut. Kasus Omicron itu ada tapi ada di tengah masyarakat tidak terdeteksi," jelas Dicky.

Belum lagi karakter masyarakat Indonesia bukan orang yang kalau sakit langsung berobat ke Rumah Sakit. Hal ini berdasarkan survei BPS, di mana masyarakat Indonesia kalau sakit 80 persen berobat di rumah saja. 

"Kemampuan kita terbatas, jangan terpaku pada data saja, karena ini fenomena gunung es. Di Indonesia agak telat 2-3 bulan dibandingkan dengan Amerika dan Eropa. Karena keterbatasan 3T kita sudah terlihat di dua gelombang sebelumnya," tegas dia.

Dia kemudian memberikan contoh negara lainnya, seperti Australia, tepatnya New South Wales, dengan kondisi masyarakat paling abai padahal sudah memiliki vaksinasi lengkap hampir 90 persen tetapi kasus tinggi kasus penyebaran Omicron. 

"Artinya kita tidak boleh menyepelekan. Di Queensland saja banyak yang sudah kembali WFH. Banyak orang berdiam diri di rumah-rumah. Vaksinasi saja tidak menjamin. Komorbid dan lansia, serta anak-anak menjadi kelompok paling rentan. Meskipun gejala ringan tapi dampak pada sektor ekonomi, kesehatan itu cukup berdampak. Misalkan di Australia ada persoalan terkait pasokan makanan, tes Covid-19," lanjut.

Dicky Budiman menyebutkan belum ada satupun negara di dunia ini yang disebut berhasil menangani pandemi Covid-19. Sehingga semua pihak diminta tetap waspada dan tidak abai dengan protokol kesehatan.

"Untuk meningkatkan kewaspadaan, saya sudah mengingatkan potensi dua gelombang sebelumnya jauh hari dan muncul korban. Di dunia ini dalam menghadapi gelombang Covid-19 belum ada negara yang dikatakan berhasil. Kita harus waspada, Omicron bukan sepele dan varian lemah. Dia bisa berdampak pada masyarakat yang memiliki imunitas itu artinya serius," tutup Dicky.

Editor: Puti Aini Yasmin

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut