DPR Tegaskan Pelemahan Rupiah Belum Seperti Krisis 1998, Fundamental Ekonomi Masih Kuat
JAKARTA, iNews.id - Anggota Komisi XI DPR Marwan Cik Asan memandang pelemahan nilai tukar rupiah hingga menembus kisaran Rp17.600 per dolar AS pada Mei 2026 merupakan sinyal adanya tekanan eksternal dan domestik yang terjadi secara bersamaan. Namun, dia mengatakan pelemahan rupiah yang terjadi saat ini belum dapat disamakan dengan krisis 1998.
Marwan menyebut fundamental ekonomi nasional relatif masih lebih kuat.
“Cadangan devisa Indonesia masih berada pada level aman, rasio utang pemerintah terhadap PDB masih terkendali, sistem perbankan relatif sehat, dan rezim nilai tukar mengambang memberikan ruang penyesuaian alami terhadap guncangan global,” kata Marwan dalam keterangannya, dikutip Jumat (15/5/2026).
Kendati begitu, Marwan mengingatkan pelemahan rupiah tidak boleh dianggap sebagai persoalan sepele. Menurutnya, volatilitas nilai tukar yang terlalu tinggi dapat memicu imported inflation, meningkatkan biaya utang luar negeri, memperburuk persepsi pasar, hingga pada akhirnya menekan daya beli masyarakat dan iklim investasi.
“Karena itu, respons kebijakan harus dilakukan secara terukur, terkoordinasi, dan tidak sekadar berorientasi jangka pendek,” ujarnya.
Dia menilai Bank Indonesia (BI) perlu melanjutkan strategi stabilisasi melalui intervensi di pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan pasar offshore secara selektif. Namun, dia mengingatkan intervensi dilakukan dengan perhitungan matang agar tidak menggerus cadangan devisa secara berlebihan.