Dapatkah Pemanasan Global Diatasi lewat Perdagangan Karbon?
Namun dalam konteks rumah kaca yang ditimbulkan oleh emisi gas, bukan hanya tanaman yang ada di dalamnya. Manusia beserta makhluk hidup lain, juga bentang alam daratan dan perairannya adalah pengisi rumah kaca itu. Seluruh permukaan bumi seakan dimasukkan ke dalam rumah kaca. Akibatnya, seluruh pengisi itu dengan suhu yang makin panas mengalami percepatan gerakan. Molekul air di dalam es misalnya, bergerak lebih cepat. Ini menyebabkan es mencair. Termasuk yang terjadi di Kutub Utara maupun Kutub Selatan, yang semula terdiri dari bongkahan-bongkahan gunung es. Air yang semula beku, masuk ke badan-badan air: sungai, danau, laut, dan tentu saja sisanya membanjiri daratan, bahkan menenggelamkannya.
Tenggelamnya daratan jadi penyebab tergesernya garis pantai yang jadi patokan batas antarnegara. Sengketa antarnegara, jadi ancaman aktual. Di sisi lain, pemanasan itu merupakan pengubah proses fisika global. Pemanasan yang terus meningkat menyebabkan pencairan dan proses pencairan menyebabkan mudah jenuhnya udara oleh uap air. Udara jadi tinggi kelembapannya. Ini pada gilirannya memengaruhi gerakan dan kecepatan angin. Ketika angin adalah udara yang bergerak, perubahannya memengaruhi material yang digerakkannya: air, debu molekul-molekul bermuatan listrik. Tak jarang menghasilkan tornado, topan dan petir. Jika hari ini sering terjadi bencana, seluruhnya dapat dikaitkan dengan ekstremnya pemanasan itu.
Perubahan proses fisika pula yang memengaruhi berubahnya pola musim. Di Indonesia yang musim kemaraunya lazim terjadi di bulan April hingga Oktober, dan musim hujannya terjadi pada bulan Oktober hingga April, sejak beberapa dekade terakhir ini mengalami perubahan. Keadaan musim yang jelas bedanya maupun waktu kedatangannya yang pasti, dapat dijadikan pedoman. Termasuk pedoman untuk menentukan masa tanam dan panen. Karenanya, saat polanya berubah, tak bisa lagi dijadikan sebagai pedoman. Tak menentunya musim panas dan panen ini dalam jangka panjang mengakibatkan terjadinya krisis pangan global.
Runtutan perubahan akibat pemanasan yang terus meningkat itu, jika diuraikan lebih lanjut akan terurai sangat luas pengaruhnya. Namun satu hal yang pasti, emisi gas yang menyebabkan efek rumah kaca itu banyak disumbang oleh karbon. Buangannya yang terus meningkat didorong oleh aktivitas manusia: pemakaian kendaraan maupun pengoperasian mesin manufaktur yang digerakkan oleh bahan bakar fosil. Juga makin menurunnya kemampuan permukaan bumi menyerapnya. Ini lantaran deforestasi. Penebangan tanaman di hutan yang menghilangkan kemampuannya menyerap karbon. Karbon yang bergelantungan di atmosfir bumi, menghalangi pantulan panas matahari. Ini menghasilkan pemanasan yang terus meningkat.
Kembali pada pertanyaan di atas, apa yang dilakukan para ilmuwan? Para ilmuwan lingkungan yang telah menemukan akar permasalahannya kemudian menyuarakan pengurangan emisi karbon. Tapi bagaimana caranya? Ilustrasi ringkasnya: dengan bekerja bersama ahli ekonomi, ahli perilaku maupun ahl-ahli sosial lainnya, ahli lingkungan menciptakan skema perdagangan karbon.